Growthmates, di tengah ketidakpastian ekonomi dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), definisi kesuksesan karier mulai berubah.
Jika dulu banyak pekerja berlomba mengejar promosi dan kenaikan jabatan secepat mungkin, kini semakin banyak yang justru mengutamakan keamanan dan stabilitas karier dalam jangka panjang.
Perubahan pola pikir ini didorong oleh kondisi pasar kerja yang semakin dinamis. Ancaman perlambatan ekonomi, gelombang PHK, hingga perubahan kebutuhan keterampilan akibat AI membuat pekerja lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karier.
Menurut survei Monster.com pada 2025 terhadap lebih dari 1.500 pekerja, sebanyak 57% karyawan berencana tetap bertahan di perusahaan tempat mereka bekerja hingga 2026.
Sementara itu, 40% responden memperkirakan kondisi pasar kerja akan memburuk, dan 52% meyakini jumlah PHK secara nasional akan meningkat.
Tren serupa juga terlihat pada generasi muda. Laporan Deloitte menunjukkan bahwa Generasi Z dan milenial yang kini mencakup lebih dari separuh angkatan kerja di Amerika Serikat, semakin memilih jalur karier yang menawarkan stabilitas jangka panjang dibandingkan pertumbuhan karier yang cepat tetapi penuh risiko.
Kontributor senior Forbes, Tracy Brower, menilai bahwa di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, pekerja perlu semakin mampu menunjukkan nilai yang mereka berikan kepada perusahaan.
Meski tidak ada cara yang benar-benar menjamin keamanan pekerjaan, ada beberapa kualitas yang dapat membantu seseorang tetap relevan dan dibutuhkan.
Salah satunya adalah menjaga rasa ingin tahu dan terus belajar. Perkembangan teknologi, khususnya AI, membuat keterampilan terus berubah. Karena itu, pekerja yang memiliki kemauan untuk mempelajari hal-hal baru akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan.
Selain itu, membangun hubungan profesional juga menjadi aset penting. Memiliki jaringan yang kuat tidak hanya membuka peluang baru, tetapi juga meningkatkan visibilitas seseorang di lingkungan kerja.
Brower juga menekankan pentingnya meningkatkan kompetensi, menjaga reputasi sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan, serta mengembangkan kreativitas.
Di era AI, kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan ide-ide baru menjadi nilai tambah yang sulit digantikan oleh teknologi.
Persiapkan Tinjauan Kinerja Sejak Sekarang
Pakar kepemimpinan Esther Choy menyarankan agar pekerja tidak menunggu hingga akhir tahun untuk mempersiapkan evaluasi kinerja.
Menurutnya, pertengahan tahun merupakan waktu yang tepat untuk mulai mendokumentasikan pencapaian, proyek penting, dan dampak pekerjaan yang telah dilakukan.
Dengan begitu, saat memasuki musim penilaian kinerja, karyawan dapat menunjukkan kontribusi mereka secara lebih terstruktur dan meyakinkan.
Jangan Terburu-buru Menerima Tawaran Kerja
Di tengah pasar kerja yang tidak menentu, berganti pekerjaan memang terlihat menarik. Namun, pelatih eksekutif Caroline Castrillon mengingatkan bahwa tidak sedikit pekerja yang justru menyesali keputusan tersebut.
Karena itu, sebelum menerima tawaran kerja baru, penting untuk mengevaluasi budaya perusahaan, peluang pengembangan karier, kondisi bisnis perusahaan, hingga ekspektasi terhadap peran yang akan dijalankan.
Jangan sampai rasa lega karena mendapat pekerjaan baru justru berubah menjadi penyesalan beberapa bulan kemudian.
Baca Juga: Resilience Jadi Skill Terpenting di Era AI Tahun 2026