Industri kosmetik Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan di tengah perubahan perilaku konsumen. Berdasarkan data Worldpanel, pasar kecantikan Indonesia tumbuh 12% pada 2025 dan kembali mencatat pertumbuhan 13% pada 2026.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah perubahan perilaku konsumen, mulai dari meningkatnya jumlah produk yang dibeli, kesediaan membayar lebih untuk produk premium, hingga meluasnya minat konsumen dari produk perawatan wajah ke kategori kosmetik dan perawatan rambut.
Beauty Lead Worldpanel Ratu Zahra mengatakan, konsumen produk kecantikan saat ini semakin eksploratif. Kebutuhan yang beragam di setiap kelompok generasi turut mendorong perubahan pola konsumsi di industri beauty.
Baca Juga: Lipstick Effect Dorong Penjualan Produk Beauty Premium di LazMall
“Beauty shoppers saat ini semakin eksploratif, dengan kebutuhan yang semakin beragam di setiap generasi, di mana Gen Z menjadi kelompok dengan pertumbuhan pembelian tercepat. Pada saat yang sama, perjalanan konsumen semakin omnichannel, yang artinya membeli dari berbagai macam toko, baik offline maupun online. Sementara itu, kanal online semakin penting sebagai tempat menemukan produk dan merek baru,” jelas Ratu dalam keterangan yang diterima Olenka pada Rabu (02/09/2026).
Gen Z menjadi salah satu kelompok yang paling aktif memanfaatkan kanal digital untuk berbelanja produk kecantikan. Data Worldpanel menunjukkan 56% Gen Z membeli produk beauty secara online.
Menariknya, merek lokal memiliki posisi cukup kuat di kanal digital. Enam dari 10 merek teratas di kanal online merupakan merek lokal. Sementara itu, di kanal offline, empat dari 10 merek teratas merupakan merek lokal.
Baca Juga: Gak Perlu Layering Skincare Berlapis! MOP Beauty Rilis Anti Cakey Grip & Glow Caviar Priming Mist
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan digital tidak hanya mengubah cara konsumen membeli kosmetik, tetapi juga memengaruhi cara mereka menemukan dan memilih produk maupun merek.
Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) Sancoyo Antarikso mengatakan pertumbuhan pasar tersebut menunjukkan besarnya potensi industri kosmetik nasional.
“Industri kosmetik Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan terus berkembang. Data yang kita lihat menunjukkan bahwa industri ini memiliki skala dan fondasi pertumbuhan yang kuat. Bagi PERKOSMI, yang perlu kita jaga bukan hanya pertumbuhan pasar, tetapi juga ekosistem yang semakin sehat, kompetitif, dan tepercaya,” ujar Sancoyo.
Menurut Statista, nilai pasar beauty dan personal care Indonesia diperkirakan mencapai US$9,74 miliar atau sekitar Rp174,5 triliun pada 2025.
PERKOSMI menilai perkembangan industri perlu terus dikawal agar pertumbuhan pasar dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem industri dan perlindungan konsumen.