Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat anggaran negara rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar US$1 per barel berpotensi menambah beban belanja bahan bakar minyak (BBM) dalam APBN hingga Rp10 triliun.
Lead Electric Mobility and Indonesia Energy International Institute for Sustainable Development (IISD), Achmad Zacky Ambadar, menuturkan, tingginya sensitivitas fiskal tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan konflik global.
Menurut pria yang akrab disapa Zacky itu, gejolak harga minyak akibat perang maupun gangguan jalur distribusi energi internasional, seperti penutupan Selat Hormuz, dapat memberikan tekanan besar terhadap anggaran negara.
“Untuk setiap kenaikan US$1 harga minyak, itu menyebabkan tambahan sebesar Rp10 triliun belanja BBM kita. Jadi, teman-teman bisa melihat bahwa sebetulnya harga minyak kita itu sangat volatil, sangat rentan terhadap perubahan situasi yang ada, baik itu domestik maupun internasional,” kata Zacky, saat menjadi pembicara di acara Energy Transition Policy Development Forum (ETP Forum) bertema ‘Refleksi Transisi Energi dan Ambisi Iklim: Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran’, yang digelar di Purnomo Yusgiantoro Center, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Zacky melanjutkan, kerentanan tersebut semakin besar karena asumsi harga minyak yang digunakan dalam penyusunan APBN sering kali berbeda dengan kondisi aktual ketika tahun anggaran berjalan.
Sebagai contoh, asumsi harga minyak dalam APBN ditetapkan sebesar US$70 per barel. Namun, perkembangan geopolitik dan konflik internasional mendorong harga minyak aktual mencapai US$112,81 per barel. Selisih sekitar US$42,81 tersebut menunjukkan besarnya potensi tekanan terhadap anggaran negara.
Selain harga minyak, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperbesar beban fiskal. Pasalnya, transaksi impor minyak dilakukan menggunakan dolar AS sehingga kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah dapat terjadi secara bersamaan dan meningkatkan biaya pengadaan energi.

Zacky juga mengingatkan bahwa harga energi yang dinikmati masyarakat saat ini belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomian atau harga pasar. Sejumlah komoditas energi masih mendapatkan subsidi maupun kompensasi dari pemerintah, mulai dari BBM, LPG, hingga tarif listrik.
Pada sektor kelistrikan, misalnya, tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga golongan R1 berdaya 450 volt ampere (VA) masih ditetapkan sebesar Rp415 per kilowatt hour (kWh). Padahal, biaya penyediaan listrik untuk kategori tersebut diperkirakan mencapai Rp1.400 per kWh.
Artinya, kata dia, terdapat selisih biaya yang harus ditanggung melalui mekanisme subsidi pemerintah agar masyarakat tetap dapat menikmati listrik dengan tarif terjangkau.
Persoalan lainnya adalah penyaluran subsidi energi yang dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran. Zacky mengatakan diperlukan pembaruan dan peningkatan akurasi basis data penerima agar bantuan pemerintah benar-benar menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan.
“Skema subsidi saat ini belum tepat sasaran dan membebani APBN. Sehingga diperlukan ketersediaan basis data yang paling mutakhir untuk meningkatkan akurasi distribusi,” imbuhnya.
Menurut Zacky, pemanfaatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki penyaluran subsidi energi sekaligus meningkatkan efisiensi belanja negara.
Di luar persoalan subsidi, Zacky turut menyoroti perkembangan adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Meskipun mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, penetrasi kendaraan listrik dinilai masih jauh dari target pemerintah.
Ia menyebut, target pemerintah mencapai 30 juta kendaraan listrik pada 2030, sementara tingkat adopsinya saat ini masih berada di kisaran 2%. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah untuk mempercepat peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik.
Baca Juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran, IESR Soroti Target Energi Terbarukan yang Belum Tercapai