Maraknya tren active wellness seperti padel, tenis, maraton, hingga Hyrox kini telah menjelma menjadi identitas gaya hidup utama masyarakat urban. Namun, di balik semangat menggebu untuk menjaga kebugaran fisik, tersimpan tantangan finansial tersendiri bagi para pelakunya.
Riset media sosial bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” yang melibatkan 300 responden di Jabodetabek dan kota-kota besar mengungkap fakta menarik mengenai pergeseran perilaku finansial generasi muda demi hobi olahraga.
Gen Z Rela Korbankan Anggaran Nongkrong, Tapi Dana Darurat Rawan Bocor
Riset tersebut memetakan kontras perilaku antara Gen Z dan Millennials dalam menyikapi tren hobi olahraga:
- Gen Z (51,9%): Secara terbuka mengaku rela mengorbankan anggaran nongkrong dan minum kopi demi membiayai hobi wellness mereka. Kendati demikian, kerentanan finansial mengintai karena 28,9% menyisihkan di atas 10% gajinya khusus untuk olahraga, bahkan 10,6% merelakan lebih dari 20% gajinya hingga tabungan tergerus. Sebanyak 29,8% juga mengaku dana daruratnya pernah "bocor halus" demi hobi.
- Millennials (52%): Cenderung lebih disiplin menjaga batas anggaran dan menunda hobi jika dana belum tersedia. Meski begitu, 34,2% kelompok ini berada dalam posisi rentan karena belum memiliki dana darurat yang memadai atau masih bergantung pada instrumen utang saat darurat.
5 Solusi Keuangan Sehat untuk Penggiat Olahraga
Baca Juga: Bukan Sekadar Body Goals, Tren Active Lifestyle Ubah Cara Orang Memandang Olahraga
Menanggapi fenomena ini, penting untuk menjaga kesehatan fisik dan kesadaran finansial agar berjalan beriringan. Berikut adalah 5 pendekatan solusi keuangan sehat yang bisa kamu terapkan:
- Terapkan Budaya Save Now, Spend Later: Sebanyak 63,5% Gen Z sudah memiliki kesadaran menabung lebih dulu sebelum belanja besar. Kamu bisa memanfaatkan fitur celengan digital untuk mengalokasikan tabungan impian secara teratur dengan keunggulan bunga harian yang kompetitif.
- Patuhi Rumus Alokasi 10% – 15% untuk Lifestyle: Pastikan total akumulasi dana hobi olahragamu tetap berada di kisaran 10% hingga maksimal 15% dari total pendapatan bulanan, setelah pos kebutuhan pokok (50%) dan investasi jangka panjang (20%) terpenuhi dengan aman.
- Evaluasi Cost-per-Use Sebelum Membeli Gear Olahraga: Jangan tergiur tren media sosial (FOMO) membeli perlengkapan mahal tanpa perhitungan. Hitung rasionya dengan membagi harga barang dengan estimasi frekuensi pemakaian dalam setahun. Sepatu lari seharga Rp1,5 juta yang dipakai 150 kali setahun jauh lebih bijak (hanya Rp10.000 per pakai) dibandingkan sepatu race Rp2 juta yang hanya dipakai 4 kali setahun (Rp500 ribu per pakai).
- Perkuat Fondasi Dana Darurat: Pastikan dana darurat tersedia sebesar 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan. Manfaatkan fitur analisis finansial digital untuk membantu menghitung besaran ideal dana darurat serta memberikan rekomendasi instrumen tabungan yang pas.
- 5. Gunakan Pinjaman Digital Secara Bijak: Jika terpaksa menggunakan alternatif pendanaan digital, pilih platform legal yang diawasi OJK seperti layanan pinjaman tunai resmi. Batasi cicilan maksimal 30% dari pendapatan dan pastikan pinjaman dialokasikan untuk kebutuhan berdaya guna jangka panjang.
Menjaga tubuh tetap bugar melalui olahraga adalah investasi jangka panjang yang luar biasa. Namun, jangan sampai semangat active wellness justru mengorbankan stabilitas finansial di masa depan.
Jika kamu saat ini masih sering merasa kesulitan mengatur porsi anggaran hobi, kebingungan merencanakan dana darurat, atau ingin mulai mendisiplinkan diri lewat pengelolaan perbankan digital yang terintegrasi, sangat disarankan untuk segera memanfaatkan fitur finansial cerdas atau berkonsultasi dengan perencana keuangan tersertifikasi guna menyelaraskan gaya hidup sehat dan ketahanan dompetmu.