Menurut Sapta, persoalan-persoalan tersebut harus dibenahi sebagai bagian dari strategi menghadapi El Nino.
“Nah ini harusnya antisipasinya adalah lebih ke akar-akar masalah tadi, masalah sumber daya air, kekritisan air, kemudian kerentanan, kebakaran di daerah gambut yang rusak. Itu yang harusnya diperbaiki,” katanya.
Sapta tidak sepenuhnya menolak penggunaan teknologi modifikasi cuaca. Menurutnya, operasi tersebut tetap dapat dilakukan apabila memang dibutuhkan untuk merespons kondisi tertentu.
Namun, kata dia, pemerintah harus memahami bahwa cakupan dan dampaknya terbatas dibandingkan dengan skala fenomena El Nino.
“Operasi modifikasi cuaca boleh, tapi kita lihat hasilnya dia pasti skalanya skala kecil, pasti di daerah yang cuma berapa luasannya, tapi menangkal El Nino,” ujar Sapta.
Lebih jauh, Sapta juga menyoroti aspek biaya apabila operasi modifikasi cuaca dilakukan dalam periode panjang. Jika El Nino berlangsung berbulan-bulan, biaya yang diperlukan untuk melakukan operasi secara berulang di berbagai wilayah tentu akan semakin besar.
Sapta pun memperkirakan apabila El Nino terjadi mulai sekitar Juli 2026 hingga awal 2027, pemerintah perlu menghadapi periode yang cukup panjang.
Dalam kondisi seperti itu, menurutnya, mengandalkan operasi modifikasi cuaca secara berulang bukanlah strategi yang efisien untuk menghadapi keseluruhan dampak fenomena tersebut.
“Kalau kita lihat satu kali operasi modifikasi cuaca, berapa ratus juta, dikali hari, dikali berapa tempat, itu kan sumber daya sangat besar,” katanya.
Karena itu, Sapta mendorong pemerintah untuk melihat ancaman El Nino sebagai momentum memperkuat ketahanan lingkungan dan sumber daya air Indonesia.
Dijelaskannya, operasi modifikasi cuaca dapat menjadi bagian dari respons ketika dibutuhkan, tetapi langkah tersebut tidak seharusnya menggantikan upaya memperbaiki akar persoalan yang membuat masyarakat dan lingkungan rentan terhadap kekeringan serta kebakaran.
“Dan, itu bukan jawaban antisipasi sebenarnya, tapi itu respon lokal atau respon sementara saja,” tegas Sapta.
Baca Juga: BNPB Aktifkan Posko dan Fokus Evakuasi Korban Gempa NTT