Pagelaran Sabang Merauke kembali hadir di tahun 2026 ini dengan rangkaian kegiatan yang semakin memperluas keterlibatan generasi muda dalam ruang kreatif berbasis budaya.
Sebagai pembuka menuju acara puncak yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang, digelar Grand Final iForte National Dance Competition ‘Inspirasi Diri’ pada Sabtu (25/4/2026) di Main Atrium, Grand Indonesia East Mall, Jakarta.
Ajang ini menjadi panggung unjuk bakat bagi pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Sebanyak 710 peserta dari 227 kota dan kabupaten mendaftar, sebelum akhirnya disaring melalui tahap kurasi di 13 kota besar seperti Yogyakarta, Surabaya, Jember, Batam, Makassar, Balikpapan, Jakarta, Semarang, Pekanbaru, Palembang, Medan, Padang, hingga Bandung.
Dari proses tersebut, terpilih 30 tim terbaik yang tampil di babak final, mewakili kategori SMA/SMK dan perguruan tinggi.
Di babak puncak, para peserta menampilkan koreografi terbaik mereka dengan menginterpretasikan lagu orisinal ‘Inspirasi Diri’ milik penyanyi, Yura Yunita, serta lagu bebas.
Kreativitas terlihat dari beragam pendekatan yang mereka tampilkan, mulai dari eksplorasi gerak modern hingga sentuhan etnik yang kental, mencerminkan kekayaan budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Kompetisi ini pun dinilai oleh sejumlah juri, yakni Cinta Laura Kiehl, Entertainer & Sociopreneur; Harashta Haifa Zahra, selaku Miss Supranational dan Puteri Indonesia 2024; Rusmedie Agus , selaku Director Pagelaran Sabang Merauke; serta, koreografer Dian Bokir dan Pulung Jati.
Kehadiran para juri dari latar belakang yang beragam memberikan perspektif penilaian yang komprehensif, mulai dari teknik, konsep, hingga kekuatan ekspresi.
Sebagai salah satu juri, Cinta Laura menyoroti perkembangan signifikan yang ditunjukkan para peserta.
“Semua kontestan di panggung hari ini menunjukkan improvement yang sangat signifikan. Pesan aku, jangan mengubah diri kalian dan jangan berusaha menjadi orang lain,” terang Cinta.

Lebih lanjut, Cinta pun menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan teknis dan orisinalitas dalam berkarya.
“Skill, technicality, dan juga detail yang kalian tunjukkan dalam performance itu sangat penting. Tapi konsep, atau originality, itu juga penting. Karena kalau kita mau budaya kita terus dilestarikan, kita harus cari cara-cara untuk memperbarui konsep dari karya kita agar tetap relevan dengan dunia yang semakin modern,” tuturnya.
Cinta juga mengaku terkesan dengan rasa bangga yang terpancar dari para peserta saat tampil di atas panggung.
“Sebagai seorang performer yang sudah melakukan ini sejak usia 12 tahun, aku bisa melihat bedanya saat orang perform dengan rasa bangga, dan saat orang perform hanya karena tuntutan pekerjaan. Dan aku bisa melihat bagaimana bangganya kalian melakukan koreo ini, dan hal tersebut membuat aku bangga melihat kalian perform,” tambahnya.
Baca Juga: Pagelaran Sabang Merauke 2026, Yura Yunita Bangga Lagunya Jadi Ekspresi Kolektif Ratusan Penari
Sementara itu, Harashta Haifa, turut menyoroti kekayaan budaya Indonesia yang tercermin dalam setiap penampilan.
“Harus diingatkan ternyata sungguh luar biasa sekali budaya Indonesia ini, diversifikasi dari Sabang sampai Merauke. Aku juga mau bilang terima kasih buat iForte karena sudah memberikan wadah bagi para anak-anak SMA dan juga mahasiswa-mahasiswi untuk melestarikan budaya Indonesia,” ungkapnya.
Di kesempatan yang sama, Rusmedie Agus juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat, mulai dari orang tua hingga para pelatih.
“Saya mengucapkan terima kasih, sampaikan salam kami pada orang tua yang telah mendukung anak-anaknya untuk datang ke kompetisi ini. Juga kepada coach dan guru yang telah membuat kalian bersinar di panggung malam hari ini,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Medie ini menambahkan bahwa ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang pertemuan bagi generasi muda Indonesia.
“Ini bukan hanya ruang untuk berkompetisi, tapi juga ruang untuk bertemu bersama generasi-generasi muda di Indonesia,” lanjutnya.
Dari 30 tim yang tampil, terpilih para pemenang terbaik di masing-masing kategori. Untuk kategori perguruan tinggi, Juara 1 diraih oleh Jaguwar dari Universitas Negeri Surabaya, disusul Katis Dance Company dari ISI Padang Panjang sebagai Juara 2, dan Naraya dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai Juara 3.
Sementara, di kategori SMA/SMK sederajat, Juara 1 diraih oleh Semata dari SMKN 5 Denpasar, Juara 2 oleh Spots dari SMA Cita Hati East Campus Surabaya, dan Juara 3 oleh Dixie.49 dari SMAN 49 Jakarta.
Selain itu, sejumlah penghargaan khusus juga diberikan, yakni Best Costume untuk Yatha Aruna dari SMAN 2 Pare, The Most Ethnic Group untuk Original Artist Papuan (OAP) dari ISBI Tanah Papua, serta Most Favorite Group untuk Maniac Dance dari SMAN 15 Bandar Lampung.
Baca Juga: Raisa Debut jadi Juri Tari, Percaya Kekuatan ‘Soul’ Lebih Penting