Juru Bicara PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli melontarkan kritik keras terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang belakangan kerap mengunjungi sejumlah korban keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Menurut Guntur Romli Gibran sedang memburu simpati ketika dirinya mulai terdesak karena berbagai masalah, salah satunya soal gugatan proses pencalonannya di Mahkamah Konstitusi (MK) yang dianggap cacat prosedur.

Baca Juga: Jokowi Terisolasi dan Ditinggalkan Prabowo: Kok Double Attack ya? Ke Saya Juga, ke Anak Saya Juga!

Dari sejumlah kunjungan yang dilakukan Gibran, Guntur Romli menangkap satu pola yang sama, Gibran datang, minta maaf kepada korban seraya diabadikan oleh timnya lalu diviralkan di media sosial. 

“Bola dilempar, kamera direkam, simpati diburu. Dari Karo ke Batang polanya sama. Datang minta maaf, berfoto, pulang. Korban-korban berikutnya tinggal menunggu giliran,” kata Guntur Romli dilansir Olenka.id Kamis (1/9/2026).

“Ini bukan kepemimpinan, ini manajemen citra dari orang yang sedang terdesak. Ada anak yang keracunan tidak butuh wapres yang pandai berempati di depan kamera. Mereka butuh negara yang menjamin piring di depan mereka tidak meracuni. Jika tidak sanggup memperbaiki MBG, berhentilah menjadikan penderitaan korban sebagai panggung pencitraan,” tambahnya. 

Dalam kunjungannya di Karo, Sumatera Selatan hingga Batang, Jawa Tengah beberapa waktu lalu Gibran memang meminta maaf atas nama pemerintah lantaran kasus keracunan berjamaah itu. Tak hanya itu Gibran juga meminta para peserta didik untuk membawa bekal sendiri dari rumah, atau dengan kata lain dia meminta korban untuk tidak menyantap MBG untuk sementara waktu. 

“Terjepit diskualifikasi di MK: Gibran rajin cari simpati. Nyuruh korban MBG bawa bekal dari rumah, program pemerintah sendiri dicampakkan?” Datang ke rumah sakit, meminta maaf, lalu menitip pesan: anak-anak bawa bekal dari rumah saja...” tutur Guntur Romli. 

Pernyataan Gibran yang meminta peserta didik membawa bekal sendiri menunjukan bahwa pemerintah saat ini bahkan tidak yakin pada program mereka sendiri.

“Wapres yang seharusnya memegang kendali koreksi justru menyuruh rakyat menyelamatkan diri. Kalau bekal dari rumah lebih aman, untuk apa triliunan rupiah digelontorkan ke dapur-dapur SPPG?” pungkasnya.  

Sebelumnya, Gibran mengunjungi sejumlah siswa SD yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG di Batang, Jawa Tengah, Senin (28/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Gibran berdialog dengan pasien, orang tua siswa, serta pihak sekolah. Ia juga meminta proses investigasi dugaan keracunan segera dituntaskan dan hasilnya disampaikan secara terbuka kepada keluarga korban.

Dalam salah satu percakapan dengan siswa korban, Gibran meminta anak tersebut kembali bersekolah setelah kondisinya membaik. Ia kemudian menyarankan agar anak membawa bekal dari rumah dan untuk sementara tidak mengonsumsi menu MBG.

“Kamu hari ini pulang, besok sekolah ya. Bawa bekal dari rumah, MBG jangan dimakan,” kata Gibran dalam video yang beredar.

Gibran juga mengunjungi sejumlah korban dugaan keracunan MBG yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Efarina, Tanah Karo, Sumatera Utara, Jumat (11/9/2026). 

Saat menemui pasien dan keluarga korban, Gibran menyarankan orang tua menyiapkan bekal makanan dari rumah selama anak masih dalam masa pemulihan.

“Jangan dipaksakan masuk kalau sebelum fit total ya, Pak, ya. Dan saya titip anaknya mungkin bawa bekal dari rumah saja. Bawa bekal yang dimasak ibunya masing-masing,” ungkap Gibran.

Baca Juga: Perbedaan Pandangan Prabowo-Gibran Soal MBG Mulai Kelihatan, Beneran Bakal Pecah Kongsi?

Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah dan memastikan negara bertanggung jawab terhadap para siswa yang terdampak.

“Atas nama pemerintah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ungkapnya.