“Dalam waktu singkat, si lambung itu kan dilatasi, jadi lambung itu bengkak dalam waktu singkat. Makanan kan butuh waktu untuk turun ke bawah. Karena ini kan seperti bottleneck. Belum sempat dia turun ke bawah, dia kembali ke arah atas,” jelasnya.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak makan secara terburu-buru maupun berlebihan.
“Jangan buru-buru. Sunah Nabi, berhenti makan sebelum kenyang,” tutur Prof. Ari.
Prevalensi GERD Berbeda Berdasarkan Metode Penelitian
Lebih lanjut, Prof. Ari pun menuturkan, GERD merupakan kondisi yang cukup banyak ditemukan di masyarakat. Namun, Prof. Ari menjelaskan bahwa angka kejadiannya dapat berbeda bergantung pada metode penelitian dan kelompok yang diteliti.
“Tiga tahun yang lalu itu angkanya 9,5 persen. Kemudian saya juga melakukan survei. Kalau survei itu kan kadang-kadang orang datang untuk survei itu sampai 50 persen,” ujarnya.
Pada studi berbasis rumah sakit, angka GERD juga ditemukan cukup tinggi pada pasien yang datang dengan keluhan lambung dan kemudian menjalani pemeriksaan endoskopi.
“Dari studi rumah sakit misalnya, pada pasien-pasien yang sakit lambung, ketika diteropong ternyata didapat angka 40 persen ada GERD,” kata Prof. Ari.
Sementara dari pemeriksaan endoskopi, sebagian besar pasien GERD berada pada grade A dan B. Adapun sekitar 20-30 persen lainnya berada pada tingkat yang lebih lanjut.
Perbedaan angka tersebut perlu dilihat berdasarkan karakteristik masing-masing penelitian. Survei masyarakat, survei daring, dan studi berbasis rumah sakit memiliki populasi serta metode yang berbeda sehingga hasilnya tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Baca Juga: Daewoong Luncurkan Fexuprazan di Indonesia, Hadirkan Terapi P-CAB Baru untuk GERD