Theo menilai, saat seseorang mulai mengalami peningkatan ekonomi, seperti mendapat promosi jabatan atau kenaikan pendapatan, muncul keinginan untuk menunjukkan perubahan status tersebut kepada lingkungan sekitar.
"Namanya merintis itu mengubah status hidup step by step. Dari yang enggak punya mobil jadi punya, yang enggak punya rumah jadi punya. Tapi di tengah perjalanan, banyak orang yang ketika hidupnya naik, jabatannya naik, mereka ingin punya status. Dari yang belum kelihatan, pengin kelihatan," kata Theo.
Keinginan untuk terlihat sukses inilah yang menurutnya sering menjadi awal munculnya keputusan-keputusan finansial yang kurang bijak.
Sebagai contoh, Theo menggambarkan seseorang yang baru memiliki tabungan sekitar Rp500 juta. Alih-alih mempertahankan modal tersebut untuk investasi atau mengembangkan usaha, orang tersebut justru tergoda membeli mobil mewah demi gengsi.
"Misalnya sekarang kita punya uang Rp500 juta. Lalu kita pengin kelihatan bawa mobil Eropa yang keren. Akhirnya kita ambil mobil itu, DP Rp200 juta, sisanya dicicil lima tahun," ujarnya.
Menurut Theo, keputusan seperti ini memang dapat meningkatkan citra di mata orang lain, tetapi di sisi lain juga mengurangi modal yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan aset atau sumber pendapatan baru.
Baca Juga: Theo Derick Ungkap Kunci Bisnis Bertumbuh: Founder Jangan Hanya Diam di Kantor