Banyak orang mengira penghasilan besar otomatis membuat seseorang cepat kaya. Padahal, menurut Content Creator sekaligus Entrepreneur, Theo Derick, ada satu kebiasaan yang justru sering menghambat seseorang membangun kekayaan, yaitu gengsi.

Theo menegaskan, pandangannya ini ditujukan khusus bagi mereka yang masih merintis kehidupan finansial atau generasi pertama yang sedang membangun arus kas (cash flow) dan mengumpulkan modal (capital). Berbeda dengan mereka yang telah lahir dari keluarga mapan atau memiliki modal besar sejak awal.

"Penghambat kekayaan nomor satu, gengsi. Tapi disclaimer dulu. Ini untuk perintis yang lagi ngebangun cashflow dan capital. Bukan untuk second gen atau pewaris yang sudah punya capital," papar Theo, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka dari laman Instagram pribadinya, Kamis (2/7/2026).

Menurut Theo, bagi orang yang telah memiliki aset dan modal besar, gaya hidup mungkin hanya menjadi bagian kecil dari kehidupan.

Namun, bagi seorang perintis, keputusan-keputusan yang dipengaruhi gengsi justru dapat memperlambat proses membangun kekayaan.

"Kalau sudah punya capital, gengsi itu cuma bagian kecil dari gaya hidup yang enggak ngaruh. Tapi kalau buat perintis atau generasi pertama yang mengumpulkan capital dengan membangun cashflow, gengsi ini adalah musuh paling besar," jelasnya.

Theo mengaku, dirinya sering bertemu dengan banyak orang dari berbagai tingkat pendapatan, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah setiap bulan.

Dari pengamatannya, besarnya penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan membangun kekayaan.

Baca Juga: Ingin Bisnis Naik Level? Ini Strategi Scale Up ala Theo Derick

Theo menilai, saat seseorang mulai mengalami peningkatan ekonomi, seperti mendapat promosi jabatan atau kenaikan pendapatan, muncul keinginan untuk menunjukkan perubahan status tersebut kepada lingkungan sekitar.

"Namanya merintis itu mengubah status hidup step by step. Dari yang enggak punya mobil jadi punya, yang enggak punya rumah jadi punya. Tapi di tengah perjalanan, banyak orang yang ketika hidupnya naik, jabatannya naik, mereka ingin punya status. Dari yang belum kelihatan, pengin kelihatan," kata Theo.

Keinginan untuk terlihat sukses inilah yang menurutnya sering menjadi awal munculnya keputusan-keputusan finansial yang kurang bijak.

Sebagai contoh, Theo menggambarkan seseorang yang baru memiliki tabungan sekitar Rp500 juta. Alih-alih mempertahankan modal tersebut untuk investasi atau mengembangkan usaha, orang tersebut justru tergoda membeli mobil mewah demi gengsi.

"Misalnya sekarang kita punya uang Rp500 juta. Lalu kita pengin kelihatan bawa mobil Eropa yang keren. Akhirnya kita ambil mobil itu, DP Rp200 juta, sisanya dicicil lima tahun," ujarnya.

Menurut Theo, keputusan seperti ini memang dapat meningkatkan citra di mata orang lain, tetapi di sisi lain juga mengurangi modal yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan aset atau sumber pendapatan baru.

Baca Juga: Theo Derick Ungkap Kunci Bisnis Bertumbuh: Founder Jangan Hanya Diam di Kantor