Tren detoks media sosial kian diminati oleh Generasi Z (Gen Z). Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan untuk selalu aktif di media sosial, semakin banyak anak muda yang memilih beristirahat sejenak dari dunia digital demi menjaga kesehatan mental.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kesadaran akan dampak penggunaan media sosial secara berlebihan. Berbagai penelitian menunjukkan paparan konten digital yang terus-menerus dapat memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional atau burnout.

Mental Health Counselor Sasya Sava mengatakan, media sosial memang menawarkan banyak manfaat, mulai dari memperluas relasi hingga membuka berbagai peluang baru. Namun, menurutnya, interaksi di dunia maya tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan sosial secara langsung.

Baca Juga: Maudy Ayunda Ajak Perempuan Indonesia Lakukan Detox dan Re-Set Tubuh, Apa Manfaatnya?

Ia mengungkapkan, sekitar 75 persen Gen Z mengalami stres dan kecemasan yang berkaitan dengan penggunaan media sosial. Ada empat faktor utama yang menjadi pemicunya, yakni social comparison atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, Fear Of Missing Out (FOMO), rasa kesepian meski terus terhubung secara digital, serta digital fatigue akibat terus-menerus mengonsumsi berbagai konten.

"Kalau kita lihat, Gen Z memang sangat aktif menggunakan media sosial, tetapi banyak juga yang merasa stres dan cemas karena media sosial. Penyebabnya mulai dari social comparison, FOMO, rasa kesepian meski selalu online, sampai digital fatigue. Karena itu sekarang mulai banyak yang melakukan detoks media sosial agar lebih sehat secara mental," ujar Sasya dalam acara Lightperience Picnic 2026 di Jakarta, Jumat (17/07/2026). 

Menurutnya, semakin banyak anak muda yang mencari ruang untuk membangun hubungan sosial yang lebih bermakna di luar dunia digital. Sebab, interaksi virtual belum tentu mampu menghilangkan rasa kesepian maupun memberikan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas.

Baca Juga: 10 Manfaat Detoks Digital, Salah Satunya Meningkatkan Kualitas Tidur!

"Koneksi nyata memberikan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas. Hal itu yang sekarang banyak dicari Gen Z karena mereka ingin merasa tidak sendirian," tambahnya.

Dampak stres berkepanjangan tidak hanya dirasakan pada kondisi psikologis, tetapi juga kesehatan kulit. Turut hadir dalam acara, Dokter Iksanuddin Qothi menjelaskan, ketika seseorang mengalami tekanan emosional, kadar hormon kortisol akan meningkat sehingga dapat mengganggu fungsi skin barrier.

Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai masalah kulit, mulai dari jerawat hingga kulit menjadi lebih sensitif. Karena itu, menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit.

Iksanuddin menekankan bahwa langkah pertama saat mengalami masalah kulit bukanlah langsung mencoba berbagai produk perawatan, melainkan mengenali penyebabnya terlebih dahulu.

Baca Juga: Psikolog Ungkap Sederet Tanda Burnout di Tempat Kerja yang Sering Tidak Disadari, Apa Saja?

"Prinsipnya adalah ketika kita mengalami suatu masalah kulit, kita harus tahu dulu penyebabnya. Setelah itu baru dilakukan penanganan sesuai kondisi kulit masing-masing. Mulailah dari basic skincare seperti membersihkan wajah, menjaga kelembapan, dan memberikan perlindungan pada kulit," jelasnya.

Melihat fenomena tersebut, Lightplus meluncurkan kampanye Lightperience melalui Light-Curious Signature Space, sebuah ruang interaktif yang mengajak anak muda beristirahat sejenak dari rutinitas digital. Kampanye ini menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari journaling, kelas kerajinan tangan, hingga ruang berkumpul bersama komunitas sebagai upaya mendorong koneksi sosial yang lebih nyata.

Brand Representative Lightplus, Nastiti Prawitasari, mengatakan Lightperience lahir dari pengamatan bahwa Gen Z tidak hanya membutuhkan solusi untuk menjaga kesehatan kulit, tetapi juga ruang yang mendukung kesehatan mental di tengah tingginya ekspektasi dan tekanan di media sosial.

"Kami melihat Gen Z hidup di tengah ekspektasi digital dan tekanan dari media sosial. Karena itu kami ingin menghadirkan ruang yang bisa membantu mereka menemukan kembali koneksi nyata, mengenali diri sendiri, sekaligus menikmati aktivitas yang membuat pikiran dan kulit terasa lebih ringan," katanya.

Selain menghadirkan pengalaman interaktif, Lightplus juga memperkenalkan Sensitive Relief Low pH Face Wash yang diformulasikan untuk membersihkan wajah secara lembut sekaligus membantu menjaga kekuatan skin barrier. Produk tersebut menjadi bagian dari pendekatan basic skincare yang dinilai penting, terutama bagi pemilik kulit sensitif maupun mereka yang memiliki aktivitas padat.

Baca Juga: Karyawan Mulai Burnout? Ini 5 Ciri Pemimpin yang Perlu Executive Coaching

Ke depan, Lightplus berencana memperluas kampanye Lightperience ke berbagai kota di Indonesia, termasuk menyambangi kampus dan komunitas. Melalui inisiatif tersebut, perusahaan ingin menghadirkan ruang bagi anak muda untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital sekaligus membangun koneksi sosial yang lebih bermakna.