Di tengah industri film yang masih banyak didominasi laki-laki, Kamila Andini hadir sebagai sutradara perempuan yang berhasil menarik perhatian, baik di Indonesia maupun di kancah internasional.
Perempuan yang lahir di Jakarta pada 6 Mei 1986 ini telah menekuni dunia sinema sejak usia muda dan konsisten menghadirkan karya-karya yang puitis, sensitif, serta sarat nilai kemanusiaan.
Melalui gaya penceritaan yang khas dan keberaniannya mengangkat isu personal hingga sosial budaya, Kamila menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dan posisi kuat dalam perkembangan perfilman Indonesia.
Prestasi terbarunya kembali mengharumkan nama Indonesia ketika ia terpilih sebagai voter untuk ajang Academy Awards tahun depan.
Undangan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas kiprahnya sekaligus menandai sejarah baru, karena Kamila menjadi sutradara perempuan Indonesia pertama yang memiliki hak suara dalam menentukan pemenang penghargaan film paling bergengsi di dunia itu.
Ia termasuk dalam 534 profesional perfilman dari berbagai negara yang tahun ini bergabung dengan The Academy, berdampingan dengan sejumlah nama besar dunia, mulai dari sutradara, aktor, penulis skenario, produser, hingga para teknisi film.
Lalu, bagaimana perjalanan karier Kamila Andini hingga mampu mencapai posisi tersebut? Simak profil dan kiprahnya berikut ini, sebagaimana Olenka rangkum dari berbagai sumber, Rabu (4/2/2026).
Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Dikutip dari Tempo, Kamila Andini merupakan putri sutradara legendaris Indonesia, Garin Nugroho. Ia tumbuh di lingkungan seni dan perfilman, namun memilih membangun jalannya sendiri tanpa bergantung pada nama besar sang ayah.
Kemudian, dikutip dari IDN Times, Kamila menikah dengan sutradara Ifa Isfansyah pada 10 Maret 2012. Pasangan ini kemudian dikaruniai dua putri, Rintik Asa Kalani yang lahir pada 23 Januari 2014 dan Binar Nara Janata yang lahir pada 4 Juli 2016.
Di tengah kesibukan berkarya, Kamila tetap berusaha menjaga keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga, serta kerap membagikan momen keseharian melalui media sosialnya.
Pengalaman menjadi ibu juga memberi pengaruh besar pada karya-karyanya, terutama dalam menggambarkan ruang domestik dan pengalaman perempuan secara lebih personal dan jujur.
Jejak Pendidikan
Dikutip dari laman LinkedIn pribadinya, Kamila Andini menempuh pendidikan di Deakin University, Melbourne, Australia, dengan mengambil jurusan Sosiologi dan Media Arts. Latar pendidikan tersebut membentuk kepekaannya terhadap isu sosial, budaya, kesetaraan gender, serta lingkungan.
Sejak remaja ia telah tertarik pada fotografi sebelum akhirnya mendalami sinema. Awalnya ia sempat menghindari dunia film karena khawatir terus dibandingkan dengan ayahnya. Namun, keterlibatannya dalam berbagai komunitas film dan produksi dokumenter membuat ketertarikannya tumbuh secara alami.
Awal Karier dan Langkah Menuju Film Panjang
Dikutip dari Beautynesia, perjalanan profesional Kamila dimulai dari belakang layar, menjadi asisten produksi video klip musisi seperti Tere, Sheila On 7, Ungu, hingga terlibat dalam proyek dokumenter dan film musik Generasi Biru tentang band Slank.
Pada 2002, ia mulai menyutradarai film pendek Rahasia di Balik Cita Rasa, yang menjadi pijakan awal sebelum akhirnya menggarap film panjang pertamanya.
Debut film panjangnya, The Mirror Never Lies (2011), menjadi titik balik kariernya. Film yang mengangkat kehidupan masyarakat Bajo di Wakatobi ini diproduksi melalui riset panjang dan mendapat apresiasi internasional.
Dikutip dari Tempo, film tersebut meraih Earth Grand Prix di Tokyo International Film Festival serta FIPRESCI Award di Hong Kong International Film Festival. Di Indonesia, film ini juga mengantarkannya meraih Piala Citra untuk Cerita Asli Terbaik dan penghargaan khusus sebagai Sutradara Pendatang Baru.
Sejak saat itu, Kamila tidak lagi dikenal sekadar sebagai putri Garin Nugroho, tetapi sebagai sineas dengan suara artistik yang mandiri.
Deretan Karya
Kesuksesan Kamila kemudian diikuti berbagai karya penting lainnya. Salah satunya Sekala Niskala (The Seen and Unseen) yang dirilis pada 2017, mengangkat kisah emosional tentang kehilangan melalui sudut pandang anak-anak Bali. Film ini diputar di berbagai festival dunia serta meraih Grand Prix Berlinale Generation Kplus dan penghargaan di Asia Pacific Screen Awards.
Pada 2021, Kamila kembali mencuri perhatian lewat film Yuni, kisah remaja perempuan yang berjuang mempertahankan haknya untuk melanjutkan pendidikan di tengah tekanan sosial untuk menikah muda. Film ini memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival dan menjadi wakil Indonesia di Academy Awards 2022.
Selanjutnya, film Before, Now & Then atau Nana (2022) mengeksplorasi trauma dan identitas perempuan pada era 1960-an. Film ini meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk Silver Bear di Festival Film Berlin dan penghargaan Film Terbaik di Asia Pacific Screen Awards.
Kamila juga merambah format serial melalui proyek Netflix Gadis Kretek (Cigarette Girl) yang dirilis pada 2023 dan berhasil masuk Top 10 global Netflix di berbagai negara. Serial ini membuktikan kemampuannya menerjemahkan gaya sinematik personal ke dalam format episodik skala besar.
Dikutip dari LinkedIn pribadinya, ia juga tengah menyiapkan proyek film panjang terbaru berjudul Four Seasons in Java, yang mengangkat perjalanan penyintas kekerasan seksual dalam menemukan kembali makna rumah dan keluarga.
Baca Juga: Kamila Andini: Film Pendek Jadi Ruang Eksplorasi dan Harapan Baru Sineas Muda