Growthmates, banyak orang merasa gajinya selalu habis sebelum akhir bulan. Bahkan ketika penghasilan naik, jumlah tabungan justru tidak ikut bertambah. Kondisi ini menjadi salah satu persoalan yang kerap ditemui Financial Trainer sekaligus Founder QM Financial, Ligwina Hananto.
Menurut Ligwina, kenaikan pendapatan seharusnya diikuti dengan peningkatan kemampuan mengelola keuangan, bukan hanya peningkatan gaya hidup.
Tanpa perencanaan yang baik, kata dia,gaji hanya akan ‘numpang lewat’ setiap bulan tanpa meninggalkan aset untuk masa depan.
"Aku ketemu orang gaji Rp5 juta, nabungnya Rp500 ribu. Cakep. Tapi ketemu orang gaji Rp10 juta, nabungnya Rp500 ribu juga. Ini beneran. Waktu dulu ngerjain pelatihan, kok makin besar penghasilannya, yang ditabung segitu-gitu aja," ungkap Ligwina, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari - @room.4improvement, Kamis (16/7/2026).
Lebih lanjut, Ligwina pun mengingatkan bahwa salah satu patokan dasar dalam mengatur keuangan adalah menjaga rasio cicilan utang maksimal 30 persen dari penghasilan, sementara alokasi tabungan minimal 10 persen dari pendapatan setiap bulan.
"Rasio cicilan utang itu 30 persen dari penghasilan, rasio menabung itu minimum 10 persen dari penghasilan," katanya.
Ligwina juga menekankan pentingnya mempersiapkan dana pensiun sedini mungkin. Menurutnya, banyak orang hanya fokus pada kehidupan saat ini tanpa menyadari bahwa masa pensiun bisa berlangsung selama puluhan tahun.
Ia pun menggambarkan bahwa seseorang yang berusia 25 tahun memiliki waktu sekitar 30 tahun untuk mempersiapkan pensiun di usia 55 tahun.Namun, setelah memasuki masa pensiun, perjalanan hidup belum selesai karena masih ada kemungkinan hidup hingga usia 85 tahun atau lebih.
"Bayangin waktu kita umur 25, memandang ke depan, aku akan punya horizon 30 tahun ke depan sampai umur 55 pensiun. Si umur 55 harus belajar memandang ke depan dari umur 55 sampai 85. Panjang banget. Nah, apa yang kita lakukan dengan 30 tahun pensiun itu? Itu lama banget, dan kemungkinan dana pensiunnya enggak akan cukup," jelasnya.
Karena itu, menurut Ligwina, persiapan pensiun tidak hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga membangun kemampuan agar tetap produktif sepanjang hidup.
Lebih jauh, Ligwina mengatakan, ada tiga hal yang sebaiknya terus dipersiapkan sejak dini agar masa pensiun lebih aman secara finansial.
Pertama, terus meningkatkan keterampilan atau skill agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan memiliki profesi yang bisa menghasilkan pendapatan dalam jangka panjang.
"Memupuk terus skill kita apa, supaya kita bisa punya profesi yang sesuai zaman terus," ujarnya.
Kedua, memahami kondisi keluarga di Indonesia yang banyak menghadapi beban finansial lintas generasi. Menurutnya, istilah Sandwich Generation bahkan terasa kurang menggambarkan realitas masyarakat Indonesia.
"Jadi namanya Sandwich Generation, aku merasa kalau di Indonesia kita kan enggak makan sandwich ya. Namanya udah bukan Sandwich Generation, namanya Ayam Geprek Generation," kata Ligwina, diselingi candaan khasnya.
Selain dana darurat, Ligwina juga mengingatkan pekerja lepas atau freelancer agar memiliki cadangan dana tambahan yang ia sebut sebagai dana plus one.
Menurutnya, berbeda dengan karyawan yang memiliki kepastian menerima gaji setiap bulan, freelancer harus memastikan sendiri pendapatan untuk bulan berikutnya.
"Kalau karyawan kan garansi dapat gaji tiap bulan, kalau freelance berarti dia harus menggaransi gaji bulan depannya sendiri. Berarti dia harus punya selain dana darurat, aku menyebutnya dana plus one," tandasnya.
Dana tersebut berfungsi sebagai bantalan ketika proyek atau pemasukan tertunda, sehingga kondisi keuangan tetap aman tanpa harus berutang.
Baca Juga: Bukan Potong Gaji, Begini Cara Efektif Displikan Karyawan Indisipliner