Menurutnya, angka tersebut menjadi penting untuk dipahami karena media sosial cenderung membuat kesuksesan segelintir trader terlihat jauh lebih besar dibandingkan jumlah sebenarnya.

Sementara itu, sebagian pelaku lainnya hanya memperoleh pendapatan yang relatif biasa, sedangkan sisanya mengalami kerugian.

"2-3 persen dari total daily trader. Nah, terus ada cluster lagi yang 50 persen sisanya itu ya pendapatannya UMF sesuai dengan negara masing-masing aja per tahunnya. Nah, sisanya lagi lost," ujarnya.

Karena itu, Ferry mengingatkan anak muda agar tidak serta-merta menjadikan trading sebagai jalan utama untuk mencapai kekayaan hanya karena melihat keberhasilan sebagian kecil orang di media sosial.

, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan peluang keberhasilan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, pengalaman, pendidikan, jaringan, dan keterampilan yang dapat menjadi modal jangka panjang.

Ia juga menyinggung bagaimana simbol kesuksesan seperti Ferrari atau McLaren kerap menjadi daya tarik yang membuat orang tertarik masuk ke dunia trading. Padahal, menurut Ferry, gambaran tersebut hanya merepresentasikan kelompok yang sangat kecil.

"Untuk bisa punya persona, punya McLaren atau punya Ferrari segala macam itu... only 2 persen. 2 persen, berdasarkan riset yang memang sudah dilakukan dan banyak sekali. Yang ngomong bukan kita," tutur Ferry.

Ferry pun mempertanyakan mengapa fakta mengenai rendahnya tingkat keberhasilan tersebut kerap diabaikan.

Menurutnya, salah satu alasan yang perlu diperhatikan adalah adanya kepentingan dari pihak-pihak yang sudah lebih dulu berada di dalam ekosistem tersebut untuk terus menarik peserta baru.

"Nah, tapi kenapa itu dilawan? Karena kan orang-orang 2 persen ini butuh orang untuk masuk," kata pungkas Ferry.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ferry Irwandi: Penggalang Dana Rp10,3 Miliar untuk Korban Bencana Sumatra