Growthmates, di tengah maraknya tren trading di kalangan anak muda, Pegiat media sosial Ferry Irwandi mengingatkan agar keputusan terjun ke dunia trading tidak hanya didasarkan pada gambaran kesuksesan yang banyak beredar di media sosial.

Menurutnya, usia muda merupakan fase penting untuk mengoptimalkan human capital atau modal manusia yang dimiliki, sehingga pilihan menjadi trader perlu dipertimbangkan secara matang.

Ferry menilai, menjadi trader bukanlah sesuatu yang keliru karena setiap orang memiliki pilihan hidup masing-masing. Namun, ia mengingatkan bahwa tingkat keberhasilan dalam aktivitas trading harian relatif rendah jika melihat sejumlah riset yang pernah dilakukan di berbagai negara.

"Kalau waktu usia lu masih muda dan lu jadi seorang trader, berarti lu nggak bisa mengoptimalkan human capital yang lu punya. Sayang banget, bukannya nggak boleh ya. Itu pilihan hidup orangnya," papar Ferry, sebagaimana Olenka kutip dari Instagram @dagingtalk, Minggu (16/8/2026).

Ferry pun kemudian menyoroti kesenjangan antara gambaran kesuksesan trader yang kerap ditampilkan di media sosial dengan kondisi mayoritas pelaku trading.

Menurut Ferry, konten mengenai trader sukses yang memamerkan gaya hidup mewah, mobil sport, hingga kekayaan, tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi keseluruhan pelaku trading.

Ferry menyebut, sejumlah riset yang dilakukan di negara seperti Brasil, Paraguay, dan Taiwan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil trader yang benar-benar berhasil mencapai tingkat kesuksesan finansial yang tinggi.

Ia pun memperkirakan kelompok yang berhasil tersebut berada di kisaran 2 persen.

"Ada yang berhasil, tapi itu yang sering tak koreksi. Berdasarkan data dan riset, tingkat keberhasilan itu rendah banget. Jadi ada riset di Paraguay, riset di Brazil, riset di Taiwan, yang bener-bener kita lihat di media sosial itu cuma 2 persen," kata Ferry.

Baca Juga: 95 Persen UMKM Gagal dalam Lima Tahun Pertama karena Kesalahan Ini

Menurutnya, angka tersebut menjadi penting untuk dipahami karena media sosial cenderung membuat kesuksesan segelintir trader terlihat jauh lebih besar dibandingkan jumlah sebenarnya.

Sementara itu, sebagian pelaku lainnya hanya memperoleh pendapatan yang relatif biasa, sedangkan sisanya mengalami kerugian.

"2-3 persen dari total daily trader. Nah, terus ada cluster lagi yang 50 persen sisanya itu ya pendapatannya UMF sesuai dengan negara masing-masing aja per tahunnya. Nah, sisanya lagi lost," ujarnya.

Karena itu, Ferry mengingatkan anak muda agar tidak serta-merta menjadikan trading sebagai jalan utama untuk mencapai kekayaan hanya karena melihat keberhasilan sebagian kecil orang di media sosial.

, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan peluang keberhasilan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, pengalaman, pendidikan, jaringan, dan keterampilan yang dapat menjadi modal jangka panjang.

Ia juga menyinggung bagaimana simbol kesuksesan seperti Ferrari atau McLaren kerap menjadi daya tarik yang membuat orang tertarik masuk ke dunia trading. Padahal, menurut Ferry, gambaran tersebut hanya merepresentasikan kelompok yang sangat kecil.

"Untuk bisa punya persona, punya McLaren atau punya Ferrari segala macam itu... only 2 persen. 2 persen, berdasarkan riset yang memang sudah dilakukan dan banyak sekali. Yang ngomong bukan kita," tutur Ferry.

Ferry pun mempertanyakan mengapa fakta mengenai rendahnya tingkat keberhasilan tersebut kerap diabaikan.

Menurutnya, salah satu alasan yang perlu diperhatikan adalah adanya kepentingan dari pihak-pihak yang sudah lebih dulu berada di dalam ekosistem tersebut untuk terus menarik peserta baru.

"Nah, tapi kenapa itu dilawan? Karena kan orang-orang 2 persen ini butuh orang untuk masuk," kata pungkas Ferry.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ferry Irwandi: Penggalang Dana Rp10,3 Miliar untuk Korban Bencana Sumatra