Growthmates, minat generasi muda Indonesia untuk menjadi pengusaha terus menunjukkan tren positif. Namun, tingginya semangat berwirausaha ternyata belum diikuti dengan kemampuan membangun bisnis yang berkelanjutan.

Pegiat media sosial Ferry Irwandi mengungkap, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha muda bukanlah mencari pelanggan, melainkan mengembangkan bisnis ke level yang lebih tinggi.

Mengacu pada riset SMERU tahun 2022, Ferry menyebut sebanyak 73 persen anak muda Indonesia bercita-cita menjadi pengusaha.

Meski demikian, sebagian besar dari mereka menghadapi kendala ketika bisnis mulai berkembang dan membutuhkan sistem yang lebih matang.

"Tahun 2022, SMERU pernah bikin riset bahwa ada 73 persen anak muda Indonesia yang bercita-cita ingin jadi pengusaha. Artinya animonya sangat tinggi. Tapi di saat yang sama, mereka dihadang satu problem besar, yaitu kesulitan dalam mengembangkan atau scale up bisnisnya," papar Ferry, sebagaimana Olenka kutip dari Instagram @malakaproject.id, Senin (13/7/2026).

Menurut Ferry, banyak pelaku usaha muda mampu membangun bisnis pada tahap awal.

Mereka berhasil menarik pelanggan dan menjalankan strategi pemasaran dengan baik. Namun, ketika bisnis mulai tumbuh, banyak yang kebingungan menentukan langkah berikutnya.

"Mereka sebenarnya jago mendapatkan customer di fase awal, marketing-nya paten. Tapi begitu ingin scale up bisnis ke level selanjutnya, mereka kelabakan karena enggak tahu mesti ngapain. Akhirnya usaha mereka pun enggak bertahan lama," jelasnya.

Baca Juga: UMKM Wajib Tahu! Konten atau Produk, Mana yang Harus Diprioritaskan?

Ferry kemudian menyoroti tingginya angka kegagalan UMKM. Ia menyebut, sekitar 50 persen UMKM gagal pada tahun pertama, sementara sekitar 95 persen tidak mampu bertahan hingga lima tahun pertama.

Dari berbagai penyebab tersebut, kata dia, sebagian besar ternyata bukan disebabkan oleh kualitas produk maupun strategi pemasaran.

"Sebanyak 88,7 persen dari semua kegagalan tersebut penyebabnya tak lain adalah kesalahan manajemen," katanya.

Temuan itu, menurut Ferry, cukup mengejutkan karena banyak orang selama ini menganggap kegagalan bisnis lebih sering dipicu oleh produk yang kurang bagus atau strategi pemasaran yang tidak efektif.

Padahal, lanjut Ferry, persoalan manajemen justru menjadi faktor yang paling menentukan keberlangsungan sebuah usaha.

"Kebanyakan dari kita mungkin merasa penyebab utama bisnis gagal itu produknya atau marketing-nya. Tapi ternyata enggak juga. Penyebab utama suatu bisnis gagal justru hal yang jarang terlihat, tapi diam-diam jadi biaya paling mahal dalam bisnis kita, yaitu manajemen," ungkap Ferry.

Lebih lanjut, Ferry menilai, persoalan manajemen kerap menjadi ‘gajah di dalam ruangan’, yakni masalah besar yang sebenarnya ada di depan mata tetapi sering diabaikan oleh para pelaku usaha.

Karena itu, Ferry mengajak para pemilik UMKM untuk mulai mengevaluasi sistem pengelolaan bisnis mereka, bukan hanya berfokus pada penjualan atau promosi.

"Pertanyaannya, kenapa UMKM bisa terjebak dalam masalah ketidakefisienan ini? Apa sebenarnya masalahnya?,” tutup Ferry.

Baca Juga: Ingin Bisnis Naik Level? Ini Strategi Scale Up ala Theo Derick