Menurut Rahmi, gagasan mengenai pekerjaan ramah keluarga telah lama diinisiasi dan terus diadvokasikan oleh Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB University di bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga. Pendekatan tersebut menempatkan keluarga sebagai bagian penting yang perlu diperhatikan dalam kebijakan maupun praktik dunia kerja.

Pentingnya pendekatan ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Rahmi bersama Prof Euis Sunarti dan Dr Istiqlaliyah Muflikhati mengenai family-friendly policies. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap kebijakan ramah keluarga berperan dalam meningkatkan keseimbangan kerja-keluarga, keberfungsian keluarga, dan kesejahteraan subjektif keluarga.

“Pekerjaan ramah keluarga bukan berarti mengurangi produktivitas atau tuntutan profesional. Justru, pendekatan ini mendorong terciptanya sistem kerja yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier tanpa harus mengabaikan fungsi dan tanggung jawabnya dalam keluarga,” jelas Rahmi.

Rahmi juga menilai, dunia kerja perlu menyediakan jalur karier yang lebih beragam. Karier tidak harus selalu diarahkan menuju posisi manajerial atau struktural. Jalur keahlian profesional maupun individual contributor dapat menjadi alternatif bagi pekerja yang ingin terus berkembang tanpa harus mengambil peran manajerial.

Sementara itu, regenerasi kepemimpinan tetap dapat dipersiapkan secara bertahap melalui mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, serta pemberian pengalaman memimpin secara progresif.

“Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup,” paparnya.

Rahmi kemudian mengatakan, fenomena Gen Z yang mempertimbangkan kembali tawaran promosi dapat menjadi momentum bagi dunia kerja untuk mendefinisikan kembali arti keberhasilan secara lebih multidimensional.

Karier tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, waktu personal, dan kesejahteraan juga tidak dapat dipisahkan dari kualitas hidup seseorang.

“Bagi gen Z, work-life balance juga perlu dimaknai secara tepat. Keseimbangan bukan berarti mengurangi tanggung jawab atau membatasi pengembangan diri, tetapi mampu mengelola pekerjaan dan kehidupan secara sehat, tetap bertanggung jawab, dan terus bertumbuh,” jelasnya.

Menurutnya, perubahan orientasi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif terhadap kebutuhan generasi muda. Kepemimpinan tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kehidupan personal dan keluarga.

“Yang perlu kita bangun bukan generasi muda yang ‘dipaksa mengejar jabatan’, tetapi generasi muda yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk memimpin karena mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebagai pengorbanan terhadap kehidupan mereka,” pungkasnya.

Baca Juga: Kenapa Gen Z Tak Ambil Pusing Ketika Melakukan Kesalahan?