Hujan abu vulkanik dilaporkan mengguyur sejumlah wilayah setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Sabtu (5/9/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai sampai kapan hujan abu vulkanik tersebut akan berlangsung.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa durasi hujan abu akibat erupsi gunung api tidak bisa ditentukan berdasarkan tanggal atau kalender. Aktivitas erupsi akan mereda apabila pasokan magma segar dari dalam bumi berhenti dan tekanan di dapur magma kembali dalam kondisi tenang.

Selama suplai magma dari kedalaman bumi masih masuk ke kantong magma di bawah gunung, aktivitas erupsi dapat terus berlangsung dengan intensitas yang berubah-ubah.

"Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun, kadang tenang, kadang membesar," kata Daryono dalam pernyataan tertulisnya, Senin (7/9/2026).

Daryono juga memaparkan, luas wilayah yang terdampak abu vulkanik tidak hanya ditentukan oleh aktivitas gunung. Ada dua faktor utama yang berperan, yakni kekuatan letusan dan arah angin.

Pada erupsi yang cukup kuat, partikel abu berukuran halus dapat terdorong hingga ketinggian yang sangat tinggi. Setelah berada di atmosfer, partikel tersebut kemudian dapat terbawa oleh angin ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi.

Dalam kondisi angin yang cukup kencang, abu vulkanik bahkan dapat bergerak hingga puluhan hingga ratusan kilometer sebelum akhirnya mengendap dan jatuh ke permukaan.

Artinya, perubahan arah angin maupun kekuatan erupsi dapat memengaruhi wilayah mana yang berpotensi mengalami hujan abu.

Pasokan magma dari dalam bumi pada akhirnya dapat berhenti ketika energi atau dorongan alami dari dalam bumi mulai kehilangan kekuatannya.

Ketika tekanan yang mendorong magma ke permukaan melemah, magma yang berada di saluran gunung api dapat mengalami pendinginan. Material tersebut kemudian mengeras dan berpotensi membuat saluran magma tersumbat oleh batuan di sekitarnya.

Jika kondisi itu terjadi dan tidak ada lagi dorongan magma yang cukup kuat menuju permukaan, aktivitas gunung api dapat kembali stabil sehingga tidak lagi menyemburkan material vulkanik secara aktif.

Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Mulai ke Mana-mana, Prabowo: Allah Lindungi Rakyat Indonesia

Menurut Daryono, terdapat sejumlah indikator yang dapat diamati melalui instrumen pemantauan untuk melihat apakah suplai magma mulai berkurang.

"Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yang mulai menyusut," kata Daryono.

Meski terdapat sejumlah indikator yang bisa dipantau, Daryono menegaskan bahwa waktu berhentinya pasokan magma tidak dapat diketahui secara pasti. Hingga kini, teknologi belum mampu menghitung secara presisi jumlah magma yang masih tersimpan jauh di dalam bumi.

Kondisi tersebut berkaitan dengan kompleksitas sistem di dalam bumi serta lokasi sumber magma yang berada puluhan kilometer di bawah permukaan. Karena itu, menentukan kapan tepatnya aktivitas erupsi akan berakhir bukan perkara yang sederhana.

"Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam Bumi secara persis. Ini mirip kejadian gempa yg belum dapat diprediksi hingga saat ini karena mekanisme terjadinya di kedalaman jauh di bawah permukaan bumi," imbuhnya.

Alih-alih menentukan tanggal berakhirnya erupsi, para ahli vulkanologi memantau berbagai perubahan yang terjadi pada gunung secara berkelanjutan.

Penurunan aktivitas gempa menjadi salah satu indikator yang diperhatikan, selain perubahan bentuk tubuh gunung seperti deflasi dan deformasi permukaan.

Data-data tersebut digunakan untuk membaca kecenderungan aktivitas gunung api, apakah terus meningkat, berfluktuasi, atau mulai mengalami penurunan.

"Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola. Appreciate untuk PVMBG Badan Geologi yang tiada lelah terus bekerja untuk ini," tutup Daryono.

Baca Juga: Abu Vulkanik Ganggu Kualitas Udara, Ini 5 Makanan yang Bisa Bantu Jaga Kesehatan Paru-paru