Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah bertanya kepada diri sendiri apakah barang yang ingin dibeli benar-benar merupakan kebutuhan atau sekadar keinginan.
Namun, Adjie mengajak untuk menggali lebih dalam alasan di balik dorongan tersebut. Sebab, keinginan berbelanja berlebihan bisa saja muncul karena adanya ketakutan tertentu, seperti takut menghadapi masa depan atau dorongan untuk mengendalikan segala sesuatu.
"Ini keinginan atau kebutuhan? Atau lebih mendalam, jangan-jangan ini sebenarnya hanya ketakutan saja. Ketakutan, takut masa depan, atau keinginan berlebihan atau ada dorongan berlebihan untuk mengendalikan segala sesuatunya. Itu bisa jadi membuat kita emotional buying tadi," jelasnya.
Dengan mengenali emosi yang mendasari keinginan berbelanja, seseorang dapat mengambil keputusan secara lebih sadar. Tidak semua keinginan harus dipenuhi, terutama jika pembelian tersebut hanya didorong oleh rasa takut, kecemasan, atau keinginan sesaat.
Lebih lanjut, Adjie menekankan pentingnya membedakan keinginan dan kebutuhan. Jika sesuatu hanya sebatas keinginan, seseorang sebenarnya memiliki pilihan untuk tidak memenuhinya.
Sebaliknya, kebutuhan tetap perlu diprioritaskan karena berkaitan dengan keberlangsungan hidup. Misalnya, kebutuhan makan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Maka kalau kita sudah waspada, oh ini ternyata keinginan, oh ini ketakutan, bisa jadi itu tidak dipenuhi pun juga nggak apa-apa. Beda kalau kebutuhan. Kalau kebutuhan misalnya makan, kita nggak makan kan bahaya," tandasnya.
Baca Juga: Cara Menerapkan Mindful Spending agar Keuangan Tetap Sehat dan Stabil