Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai semakin matang dalam berkomunikasi di tengah dinamika politik yang memanas. Alih-alih terpancing ketika ditanya mengenai polemik yang melibatkan Jusuf Kalla dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Gibran justru memberikan pujian kepada mantan wakil presiden tersebut.
Gibran menyebut Jusuf Kalla sebagai senior, mentor, hingga idolanya. Respons tersebut mendapat apresiasi dari pakar komunikasi politik Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Nusakom Pratama Institute, Ari Junaedi.
Menurut Ari, sikap Gibran menunjukkan perkembangan dalam kedewasaan politiknya. Ia menilai Gibran mampu menjaga emosi dan tidak terjebak dalam pertanyaan yang berpotensi memperkeruh situasi politik.
Baca Juga: Jokowi 'Kawal' Prabowo-Gibran Dua Periode
“Dalam beberapa waktu terakhir, pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla begitu ‘menohok’ soal Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Hal ini tidak terlepas dari pelaporan terhadap JK ke kepolisian usai berceramah di Masjid UGM, Yogyakarta,” kata Ari dalam keterangannya, dikutip Selasa (01/09/2026).
Ari melihat komunikasi Gibran tersebut sebagai salah satu upaya untuk meredam meningkatnya tensi politik nasional. Terlebih, masyarakat saat ini juga tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat berbagai faktor, mulai dari kenaikan harga BBM nonsubsidi dan elpiji nonsubsidi hingga harga plastik yang terdampak dinamika geopolitik global.
Menurutnya, polemik politik yang melibatkan tokoh nasional justru berpotensi memperbesar kegaduhan apabila tidak disikapi secara proporsional.
“Dalam teori komunikasi, upaya Gibran seperti ingin memecah spiral keheningan. Dari Elisabeth Noelle-Neumann, seorang pakar politik dari Jerman, Gibran sepertinya ingin memecah dominasi arus pendapat umum tentang diri dan keluarganya,” ujar Ari.
Ia menilai Gibran kini lebih mampu mengontrol respons ketika berhadapan dengan pertanyaan media. Bukannya ikut memperpanjang polemik, Gibran justru memilih memberikan penghormatan kepada JK.
Baca Juga: Kepuasan Rakyat ke Prabowo-Gibran Terjun Bebas: Tinggal 55,1%
“Gibran tidak terpancing dengan pancingan pertanyaan media yang jika ditanggapi dengan emosi justru akan memperuncing suasana politik nasional menjadi semakin panas. Dalam hal ini, Gibran sudah belajar banyak mengenai pola komunikasi yang benar,” tegas Ari.
Sikap tersebut terlihat ketika Gibran ditanya mengenai JK saat melakukan kunjungan kerja di Papua Barat Daya, Rabu (22/4/2026).
Gibran tidak memberikan respons yang menyerang ataupun memperdebatkan pernyataan JK. Sebaliknya, ia menempatkan JK sebagai sosok senior yang memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan.
“Ya baik terima kasih untuk pertanyaannya. Pak JK itu senior saya. Pak JK itu mentor juga. Beliau sudah sangat berpengalaman. Beliau banyak kiprah dan kontribusinya untuk negeri ini, terutama di daerah-daerah konflik,” kata Gibran.
Gibran bahkan menyebut JK sebagai teladan bagi banyak pihak. Ia juga mengaku menghargai masukan dan evaluasi yang diberikan JK.
“Jadi beliau itu adalah teladan untuk kita semua dan ya, saya sangat berterima kasih sekali untuk masukan-masukan dan juga evaluasi dari Pak JK. Pak JK itu idola saya,” lanjutnya.
Pernyataan Gibran tersebut disampaikan ketika komentar-komentar JK mengenai Jokowi tengah menjadi sorotan. Situasi semakin ramai setelah JK dilaporkan ke kepolisian usai menyampaikan ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Di tengah pro dan kontra yang berkembang, Gibran justru memilih respons yang lebih tenang. Menurut Ari, keputusan tersebut memperlihatkan bahwa Gibran mulai mampu mengelola komunikasi politik secara lebih terukur.
Bagi Ari, kemampuan untuk tidak terpancing emosi ketika menghadapi isu sensitif justru menjadi modal penting bagi seorang pejabat publik. Dalam situasi politik yang mudah memanas, kata dia, cara menyampaikan respons dapat sama pentingnya dengan substansi yang disampaikan.