Program Makan Bergizi (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto masih kerap menuai pro kontra di tengah masyarakat. Ada kelompok yang mendukung program tersebut karena dinilai bermanfaat dan punya efek ganda seperti pembukaan lapangan kerja baru dan beragam efek lainnya, di sisi lain program itu oleh banyak pihak dinilai sebagai program yang hanya menguras anggaran negara, MBG dinilai tak efektif.
Cyrus Network baru-baru ini merilis respon masyarakat terhadap program yang menelan anggaran hingga Rp335 triliun itu. Lembaga survei ini mengklaim bahwa mayoritas masyarakat Indonesia mendukung penuh program tersebut.
Baca Juga: Kritik dan Pujian Mahfud MD Buat Prabowo, MBG hingga Kebijakan Spontan Presiden Disorot Tajam
"Hasil survei menunjukkan 65,4 persen publik mendukung program MBG. Sementara itu, yang tidak mendukung sebesar 32,7 persen. Artinya, jumlah masyarakat yang mendukung jauh lebih besar," kata Peneliti Ahli Cyrus Network, Syahril Ilhami dilansir Olenka.id Rabu (15/4/2026).
Dalam pelaksanaannya yang telah dimulai sejak 2025 lalu, program MBG memang memang selalu menyita perhatian publik, meski demikian Cyrus Network mengklaim program itu mendapat dukungan yang konsisten dari masyarakat, walau harus diakui beberapa persen masyarakat menarik dukungan tersebut setelah rentetan peristiwa keracunan yang terjadi selama pelaksanaan MBG yang disusul kritik keras dari berbagai pihak.
"Sebanyak 68,4 persen responden mengalami perubahan sikap, dengan rincian 17,2 persen meningkat menjadi mendukung dan 30,9 persen menurun. Sementara itu, 51,2 persen responden menyatakan sikapnya tetap," jelasnya.
Masyarakat yang mendukung MBG punya alasan yang nyaris seragam, mereka menilai program ini sangat bermanfaat pada penerima manfaat yang terdiri anak sekolah di seluruh tingkatan pendidikan, ibu hamil dan menyusui hingga masyarakat lanjut usia di seluruh Indonesia. MBG dinilai sebagai salah satu jembatan yang mengurangi beban ekonomi banyak keluarga di Indonesia.
"Alasan utama dukungan adalah membantu pemenuhan gizi masyarakat sebesar 31,5 persen, mengurangi beban ekonomi keluarga 28,4 persen, serta mendukung kesehatan anak sekolah, balita, ibu menyusui, dan ibu hamil sebesar 23 persen," ungkapnya.
Alasan lain yang membuat mayoritas masyarakat konsisten menyatakan dukungan terhadap MBG lantaran efek jangka panjang terhadap generasi muda dan mendukung petani atau UMKM lokal.
Dari empat aspek yang diuji dalam survei yakni ekonomi, kesehatan, pelaksanaan, dan dampak terhadap kecerdasan, mayoritas responden menunjukkan optimisme terhadap keberhasilan program MBG.
"Sebanyak 70,6 persen publik yakin program MBG dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kemudian, 64,4 persen yakin program ini meningkatkan kesehatan, 61,2 persen yakin pelaksanaannya akan sesuai harapan dan menjangkau seluruh anak Indonesia, serta 60,8 persen yakin program ini dapat meningkatkan kecerdasan generasi penerus," ucapnya.
Meski demikian, survei juga menghasilkan sejumlah catatan dari kelompok yang belum mendukung program MBG, terutama terkait aspek pelaksanaan dan kualitas.
Baca Juga: Bertemu Putin di Moskow, Prabowo dan Bahlil Mau Amankan Ketahanan Energi Nasional
"Alasan utama ketidakdukungan adalah pelaksanaan yang dinilai belum baik sebesar 30,1 persen, kualitas makanan diragukan 22,3 persen, anggaran terlalu besar 16,7 persen, distribusi tidak merata 17,7 persen, serta dianggap bukan prioritas dibanding program lain 9,2 persen. Selain itu, ada juga yang meragukan aspek keamanan pangan sebesar 2,2 persen dan kurangnya dampak transformasional 1,2 persen," terangnya.