Growthmates, rajin berolahraga sering kali dianggap sebagai ‘penebus’ pola makan yang kurang sehat. Seseorang yang rutin berlari atau pergi ke gym, misalnya, merasa tidak masalah mengonsumsi gorengan setiap hari karena kalori yang masuk dianggap dapat dibakar kembali melalui aktivitas fisik.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan kompetensi komprehensif dalam penanganan penyakit metabolik, gastroenterologi, hepatologi, serta penyakit imunologi, dr. Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K, mengingatkan bahwa olahraga tidak serta-merta menghapus dampak buruk dari pola makan tinggi lemak dan kalori.

Menurut dr. Vardian, olahraga memang memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Aktivitas seperti lari dan resistance training dapat membantu meningkatkan kebutuhan energi serta pembakaran kalori.

Namun, ada dampak metabolik dari pola makan yang tidak dapat begitu saja ‘dibayar’ dengan berolahraga.

“Tubuh kita tuh bukan kayak pinhole ya, lu utang berapa dibayarkan lari berapa,” papar dr. Vardian, dikutip dari laman Instagram @roryasyari - @room.4improvement, Selasa (11/8/2026).

dr. Vardian menuturkan, seseorang yang rutin berolahraga memang dapat mengalami peningkatan basal metabolic rate (BMR) dan pembakaran kalori yang lebih baik.

Akan tetapi, kata dia, konsumsi gorengan dan makanan tinggi kalori secara berlebihan tetap dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL maupun trigliserida.

“Lu olahraga, lari, resistance training, good. Memang BMR lu akan naik, pembakaran kalori lu akan bagus. Tapi tadi, LDL yang meningkat, kemudian triglyceride yang meningkat, akibat gorengan dan akibat makanan-makanan yang kalori tersebut, itu yang gak bisa hanya dibayar dengan kita lari doang,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Vardian juga menyoroti bahwa persoalan pola makan tinggi lemak bukan hanya mengenai jumlah kalori atau berat badan. Menurutnya, peningkatan kadar LDL dan trigliserida juga perlu diperhatikan karena berkaitan dengan proses pembentukan plak pada pembuluh darah.

“LDL yang tinggi dan triglyceride yang tinggi, itu sangat berkorelasi dengan pembentukan plak di pembuluh darah manapun. Sehingga menyumbat pembuluh darah itu,” katanya.

dr. Vardian memaparkan, penyumbatan pembuluh darah dapat menimbulkan masalah serius tergantung lokasi pembuluh darah yang terdampak.

Jika terjadi pada pembuluh darah jantung, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan penyakit jantung koroner. Sementara jika terjadi pada pembuluh darah otak, risikonya dapat berupa stroke.

“Kalau misalnya di jantung, maka penyakit jantung koroner. Kalau misalnya di pembuluh darah yang lain, let's say otak, itulah jaringan stroke,” terang dr. Vardian.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan metabolik tidak cukup hanya dengan aktif berolahraga. Pola makan sehari-hari tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

Selain gorengan, dr. Vardian juga menyoroti anggapan bahwa penggunaan air fryer otomatis membuat makanan menjadi lebih sehat. Menurutnya, cara memasak memang penting, tetapi kualitas bahan makanan yang digunakan tetap harus diperhatikan.

Baca Juga: Pakar Beberkan Bahaya Lemak Trans: Musuh di Balik Gorengan yang Bisa Rusak Kesehatan

Ia mencontohkan kebiasaan mengonsumsi frozen food dan ultra-processed food (UPF) seperti sosis dan nugget hanya karena makanan tersebut dimasak menggunakan air fryer.

“Jangan sampai semua makanan yang di-label di air fryer itu jauh lebih sehat. Orang sekarang itu gampang banget makan frozen food, makan UPF, tapi yaudah karena di air fryer, akhirnya sehat, seakan-akan sehat,” katanya.

Menurut dr. Vardian, jika seseorang tetap memilih makanan yang kurang sehat tetapi hanya mengganti metode memasaknya, risiko dari pola makan tersebut tidak serta-merta hilang.

“Sausage, nugget, dan lain sebagainya, sama dong. Sama juga dong, Mas, kalau misalnya ternyata cara makannya kita dan pemilihan makanannya kita akhirnya juga gak sehat, ya sama aja resikonya,” lanjutnya.

Kemudian, salah satu hal yang juga menjadi perhatian dr. Vardian lainnya adalah anggapan bahwa konsumsi gorengan dan makanan tinggi kalori tidak berbahaya selama seseorang masih muda dan belum merasakan gejala apa pun.

dr. Vardian pun lantas mengingatkan bahwa berbagai gangguan metabolik dapat berkembang tanpa selalu menimbulkan gejala yang langsung terasa. Karena itu, merasa sehat bukan berarti seseorang terbebas dari risiko kesehatan akibat pola makan yang kurang baik.

“Banyak yang ngerasa, ya gue masih muda, makan gorengan gak masalah, tubuh gue gak berubah, gue masih merasa sehat-sehat aja, gak ada gejala-gejala sakit apapun,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai orang yang merasa baik-baik saja meski memiliki kebiasaan tersebut, dr. Vardian memberikan jawaban singkat, namun menohok.

“Tunggu aja waktunya,” katanya.

Ia juga menyoroti persoalan obesitas pada anak yang dapat membawa dampak hingga usia dewasa.

Menurutnya, kondisi berat badan berlebih pada masa kanak-kanak bukan persoalan yang seharusnya dianggap sepele karena dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan di kemudian hari.

“Anak dengan obesitas ternyata memiliki risiko untuk menjadi obesitas lebih tinggi ketika dewasanya dibandingkan anak yang tidak obesitas,” tandasnya.

Baca Juga: Dokter Ungkap Kebiasaan Sepele Setelah Makan yang Ampuh Menjaga Gula Darah Tetap Stabil