Stroke sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya dialami orang dewasa atau lansia. Padahal, kondisi ini juga bisa terjadi pada anak-anak. Karena itu, orang tua perlu memahami gejala stroke sejak dini agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Dokter Spesialis Saraf dari Primaya Hospital PGI Cikini, Riski Amanda, Sp.N, FINA, menjelaskan bahwa gejala stroke pada anak pada dasarnya sama seperti yang terjadi pada orang dewasa. Dan, salah satu cara paling mudah untuk mengenalinya adalah dengan metode F.A.S.T.
“Gejala stroke pada anak sama seperti gejala stroke pada dewasa. Singkatnya kita bilang F.A.S.T,” tutur dr. Riski, sebagaimana dikutip dari laman Instagram Mother & Beyond, Selasa (17/3/2026).
dr. Riski melanjutkan, metode F.A.S.T (Face, Arm, Speech, Time) merupakan panduan sederhana untuk mengenali tanda-tanda stroke secara cepat.
F (Face) mengacu pada kondisi wajah yang terlihat asimetris atau mengalami kelumpuhan pada salah satu sisi. A (Arm) merujuk pada kelemahan pada lengan atau salah satu sisi tubuh, baik kanan maupun kiri. Sementara S (Speech) berkaitan dengan gangguan bicara, seperti tiba-tiba tidak bisa berbicara, bicara pelo, atau terdengar cadel.
“F itu face asimetris, yaitu gerakan atau separuh wajah lumpuh. A itu arm, yaitu kelemahan sisi tubuh atau kelemahan sebelah badan kanan atau kiri. S itu speech, biasanya tiba-tiba tidak bisa berbicara, bicaranya pelo atau cadel,” jelasnya.
Baca Juga: Campak Jadi KLB, Dokter Anak Ungkap Dampak Kekosongan Vaksin dan Perbedaannya dengan Roseola
Menurut dr. Riski, ciri khas stroke adalah munculnya gejala secara mendadak. Anak yang sebelumnya tampak sehat, aktif, dan normal bisa tiba-tiba mengalami gangguan neurologis.
“Biasanya terjadi secara tiba-tiba. Jadi sebelumnya anaknya bagus, aktif, tiba-tiba kelemahan sebelah badan, tiba-tiba tidak sadar, tiba-tiba sakit kepala hebat, atau tiba-tiba tidak bisa bicara lagi. Nah, itu patut kita bawa ke IGD sebagai emergency,” kata dr. Riski.
Karena itu, orang tua tidak boleh menunda untuk mencari pertolongan medis jika menemukan gejala tersebut. Stroke merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera.
dr. Riski mengatakan, dalam penanganan stroke dikenal istilah ‘time is brain’ yang berarti setiap detik sangat menentukan kondisi otak pasien.
Menurutnya, semakin cepat pasien mendapat penanganan, semakin besar peluang untuk meminimalkan kerusakan otak.
“Time is brain. Setiap satu menit biasanya sekitar satu juta sel otak akan rusak. Jadi kalau cepat terdiagnosis dan cepat dibawa ke rumah sakit, kemungkinan besar bisa diselamatkan,” ungkap dr. Riski.
dr. Riski pun menuturkan, kabar baiknya, anak yang mengalami stroke memiliki peluang pemulihan yang cukup baik dibandingkan orang dewasa.
Hal ini, lanjut dia, karena otak anak masih berada dalam tahap perkembangan dan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih tinggi.
“Apalagi stroke pada anak, penyembuhannya tentu sangat bagus karena anak masih dalam tahap masa perkembangan,” tandasnya.
Baca Juga: Kasus Campak Melonjak, Dokter Soroti Ancaman Gerakan Anti-Vaksin di Indonesia