Sebagian orang terlahir dalam keluarga berada. Orang-orang ini sering disebut lahir dengan sendok emas. Akan tetapi, sebagian di antaranya terlahir dalam keluarga yang serba kekurangan. Keduanya sama-sama punya peluang kesuksesan. Namun, perbedaannya sangat jelas: orang-orang yang terlahir dari keluarga sederhana bahkan kekurangan harus bekerja lebih keras untuk memperbesar potensi keberhasilannya.
Kali ini, Olenka akan membahas deretan orang sukses di Indonesia (para konglomerat dengan bisnisnya yang luas) yang berasal dari keluarga tidak berada. Mereka membuktikan bahkan kesuksesan diraih bukan karena keberuntungan, melainkan kerja keras dan kerja cerdas.
Baca Juga: Kerajaan Bisnis Garudafood Group, Berawal dari Produsen Tepung di Pati
1. Ciputra
Namanya tersohor dalam industri properti Tanah Air. Pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah, pada 24 Agustus 1931 ini dikenal dengan sebutan Pak Ci. Ciputra merupakan pendiri grup bisnis Ciputra dengan deretan mahakarya seperti Mal Ciputra dan Hotel Ciputra.
Sejak kecil, Ciputra terbiasa bekerja keras. Apalagi, seusai sang ayah harus meninggal saat ditangkap tentara Jepang, dia terpaksa ikut berjualan untuk menghidupi keluarganya dan terlambat melanjutkan sekolah. Meski begitu, pengalamannya bekerja sejak kecil membulatkan tekadnya untuk sukses hingga Ciputra mampu menyelesaikan pendidikannya sebagai arsitek di Institut Teknologi Bandung (ITB).
2. Sudono Salim
Sudono Salim atau Liem Sioe Liong merupakan pendiri Salim Group yang menaungi sejumlah merek ternama, seperti Indomie dan Indomaret. Di era kepemimpinannya, Salim Group bahkan menaungi BCA yang harus dilepasnya saat krisis ekonomi tahun 1998.
Sukses membangun bisnisnya di Indonesia, pria kelahiran Fujian, Tiongkok pada 16 Juli 1916 ini berasal dari keluarga miskin. Dia terpaksa putus sekolah di umur 15 tahun dan memilih untuk merantau ke Indonesia di usia 20 tahun. Pasang-surut bisnis dilalui oleh Sudono Salim hingga suksesi kepemimpinan di grup bisnisnya dilanjutkan sang anak, Anthoni Salim.
3. Tomy Winata
Tomy Winata merupakan pendiri Artha Graha Network atau yang dikenal sebagai AG Group. Grup bisnis ini bergerak di berbagai lini bisnis yang salah satunya adalah properti. AG Group merupakan pemilik wilayah prestisius SCBD (Sudirman Central Business District) serta salah satu hotel legendaris di Jakarta, Hotel Borobudur.
Tomy lahir di Pontianak, Kalimantan Barat pada 23 Juli 1958. Dia menjadi yatim piatu sejak muda dan sempat bekerja sebagai kuli bangunan untuk bertahan hidup. Tak mau menyerah, dia merantau ke Jakarta untuk peruntungan yang lebih baik. Titik penting dalam perjalanan bisnisnya terjadi di tahun 1972 ketika Tomy membangun bisnis yang bekerja sama dengan pihak militer Indonesia.
4. Eka Tjipta Widjaja
Konglomerat lainnya yang juga melalui kemiskinan di usia muda adalah Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Group. Sejumlah bisnis yang dijalankan oleh konglomerasi ini mencakup perkebunan, properti, kesehatan, sampai finansial. Sejumlah merek ternama di bawah naungan grup bisnis, di antaranya, adalah Golden Agri-Resources Ltd (GAR), Sinar Mas Land, dan Eka Hospital.
Pria kelahiran Quanzhou, China pada 27 Februari 1921 ini harus merantau ke Indonesia, tepatnya di Makassar, pada usia sembilan (9) tahun. Karena kondisi keuangan yang belum stabil, Eka hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat sekolah dasar (SD). Dia lantas memulai usahanya dengan menjajakan barang dagangan toko sang ayah menggunakan sepeda. Sedikit demi sedikit, keberanian dan kemampuan berbisnis Eka Tjipta terasah hingga sukses membangun Sinar Mas Group.
5. Suherman Widyatomo
Drg. Suherman Widyatomo merupakan pendiri jaringan rumah sakit Sentra Medika Hospital Group (SMHG) serta pendiri Universitas Medika Suherman. Dia mulai merintis bisnis kesehatannya di tahun 1984 lewat pendirian Rumah Sakit Harapan Bunda di Jakarta Timur. Saat ini, SMHG memiliki enam (6) rumah sakit umum Kelas B yang sudah terakreditasi Paripurna (SNARS).
Pria yang lahir pada 19 Agustus ini juga melalui masa muda yang tidak mudah. Meski begitu, dia tetap berjuang untuk menggapai cita-citanya di dunia kedokteran.
Baca Juga: Kisah Sri Prakash Lohia Dirikan Indorama Group
6. Dato Sri Tahir
Masa kecil Dato Sri Tahir, pendiri Mayapada Group, juga jauh dari kata glamor. Orang tuanya mempunyai usaha penyewaan becak di daerah Surabaya. Dia harus melepas mimpinya untuk berkuliah di kedokteran karena ayahnya jatuh sakit dan tak mampu lagi membiayai sekolahnya.
Tahir terus berusaha agar bisa melanjutkan pendidikan hingga akhirnya mampu mendapatkan beasiswa di Nanyang Technological University, Singapura pada tahun 1972. Mulai berbisnis kecil-kecilan dari muda, Tahir sukses membangun Mayapada Group pada tahun 1986. Sejumlah bisnis yang dijalankan konglomerasi ini mencakup Bank Mayapada serta Mayapada Hospital.
7. Chairul Tanjung
Dapat sebutan si “Anak Singkong”, masa kecil Chairul Tanjung dilalui dengan tidak mudah. Menurut penuturannya, dia sempat tinggal di rumah petak 3x8 meter tanpa WC. Dia pun melewati masa remajanya dengan ikut mencari uang, seperti menjajakan es mambo hingga kue di sela-sela waktu istirahat saat masih sekolah menengah pertama.
Dia mulai fokus dan berani menjalankan bisnis besar saat di bangku kuliah. Meski berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (UI), dia sudah membulatkan tekad untuk fokus membangun usaha. Pria kelahiran 18 Juni 1962 ini sukses membangun CT Corp sejak tahun 1987. Beberapa bisnis yang konglomerasi ini jalankan seperti Bank Mega, allobank, TRANS TV, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, The Trans Luxury Hotel, Trans Studio, Transmart, dan lain sebagainya.
8. Liem Seeng Tee
Liem Seeng Tee merupakan pria kelahiran Desa Anxi, Fujian, China pada tahun 1893. Dia terpaksa merantau di usia lima (5) tahun akibat kemiskinan di wilayahnya. Di usia muda, dia menjadi yatim piatu setelah sang ibu meninggal dunia ketika masih berada di China, sedangkan sang ayah meninggal tidak lama setelah mendarat ke Indonesia. Diurus oleh keluarga angkat di Bojonegoro, Liem memutuskan hidup mandiri sejak usia 11 tahun.
Dia mulai berjualan di kereta sejak usia muda, bekerja di pabrik rokok, hingga akhirnya merintis perusahaan rokoknya sendiri. Kesuksesan Handel Maatschappij Liem Seeng Tee (1913) atau yang kini dikenal sebagai PT HM Sampoerna Tbk diraih berkat kerja sama Liem Seeng Tee dan sang istri, Siem Tjiang Nio. Meski harus menghadapi tantangan beberapa kali hingga nyaris bangkrut, Sampoerna sukses menjadi salah satu perusahaan rokok tertua dan terbesar di Indonesia.