Respons Shell
Shell Indonesia akhirnya buka suara perihal kosongnya beberapa stok produk BBM di SPBU Shell tersebut.
President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian, menyatakan bahwa perusahaan saat ini tengah berupaya mengisi kembali pasokan BBM di seluruh jaringan SPBU Shell guna memenuhi kebutuhan pelanggan.
"Shell Indonesia berkomitmen untuk terus menerapkan standar keselamatan terbaik, termasuk dalam mendistribusikan BBM ke seluruh SPBU Shell," terang Ingrid, dikutip dari Kontan, baru-baru ini.
Sebelumnya, dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/2/2025) lalu, Ingrid mengatakan bahwa Shell mengalami keterlambatan pengiriman stok BBM akibat gangguan dari sisi suplai atau rantai pasok.
“Akan tetapi, hambatan tersebut memang merupakan kondisi yang di luar kendali kami, karena yang dapat kami fokuskan adalah hal-hal yang memang dapat kami kendalikan, yaitu pertama kami telah menyampaikan permohonan neraca komoditas (ke Kementerian ESDM) untuk 2025 sebagai dasar untuk mendapatkan persetujuan impor pada September 2024,” beber Ingrid.
Dengan kata lain, Inggrid mensinyalir awal mula kelangkaan BBM di SPBU Shell sudah terjadi sejak September tahun lalu, saat perseroan mengajukan permohonan neraca komoditas untuk mengantongi izin impor BBM dari pemerintah.
“Kami juga melakukan korespondensi dengan kementerian terkait, yaitu Kementerian ESDM, dan menyampaikan apa saja risiko yang akan terjadi—misalnya potensi stock out — apabila terjadi keterlambatan dari sisi suplai,” ujarnya.
Shell, dikatakan Ingrid, baru mendapatkan persetujuan neraca komoditas dari Kementerian ESDM pada 20 Januari 2025, sedangkan persetujuan impor dari Kementerian Perdagangan baru dikantongi pada 23 Januari 2025. Sementara, pada saat itu kondisi pasokan BBM Shell hampir kosong yakni hanya 25%.
"Jadi kalau kita lihat, perizinannya membutuhkan waktu yang lebih lama dari sebelumnya, karena kami juga sudah sampaikan pada September, tetapi kami baru mulai Januari,” paparnya.
"Jadi ada 25 persen yang mengalami stock out untuk beberapa varian. Tentunya kami juga berusaha memitigasi dengan cara membagi stok jadi untuk setiap daerah Bapak-Ibu kita tetap ada jangan sampai benar-benar stock out," tambah Ingrid.
Lebih lanjut, Inggrid menjelaskan meski Shell telah mendapatkan persetujuan impor, proses untuk pemenuhan stok ke semua SPBU memerlukan waktu.
"Dari mulai penunjukan kapal, persiapan produk sampai juga kami harus bongkar di terminal, pengetesan dan sampai distribusi dari terminal ke SPBU itu membutuhkan waktu sekitar hampir 20 hari," kata dia.
Respon Pemerintah
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyebut gangguan pasokan BBM di SPBU Shell dipicu oleh tingginya permintaan dari konsumen.
Anggota Komite BPH Migas, Saleh Abdurrahman, mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan dari instansinya, stok BBM shell sebenarnya masih tersedia di terminal bahan bakar minyak (TBBM).
“Namun, terjadi peningkatan permintaan BBM dari konsumen dan Shell sedang berupaya memenuhi permintaan tersebut,” tuturnya saat dimintai konfirmasi, Rabu (26/3/2025).
Saleh pun mengatakan BPH Migas berharap Shell dapat segera menyelesaikan isu gangguan pasokan BBM di SPBU-nya, terutama karena periode puncak konsumsi Ramadan-Idulfitri (Rafi) sudah makin dekat.
Baca Juga: Shell Tutup Seluruh SPBU di Indonesia? Ini Penjelasannya...