Beberapa stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell mengalami peningkatan antrean kendaraan secara mendadak belakangan ini. Hal ini terjadi setelah viralnya kasus dugaan penjualan bahan bakar oplosan yang melibatkan oknum tertentu di Pertamina.

Namun, di tengah pamornya yang naik, Shell nyatanya menghadapi hambatan dalam hal penyaluran bahan bakar minyak BBM. Diketahui, sejumlah SPBU Shell mengalami kekosongan BBM.

Kondisi ini pun dikeluhkan oleh masyarakat yang memang pengguna produk BBM Shell. Lantaran, kekosongannya terjadi berhari-hari, bahkan banyak SPBU yang semua produknya kosong sehingga tidak melayani pengisian BBM.

Kondisi kekosongan BBM di SPBU Shell ini menjadi topik hangat di forum diskusi internet dan media sosial X sejak kemarin.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, pemilik akun @vetubii_ di media sosial X menyampaikan sejumlah lokasi SPBU kosong dalam waktu yang bersamaan.

“Shell di Sunter, Shell di Jati Asih, Shell di Pluit, dah tuh 3 lokasi yang sangat berjauhan, semua kosong di 1 hari yang sama,” tulisnya di akun tersebut.

Senada, pemilik akun @fdhilfirmansyah menuturkan stok BBM Shell di SPBU Karawang telah kosong sejak Jumat pekan lalu.

Pemilik akun @tesarramadhan mengalami hal serupa, Shell di Rawa Buntu belum lama ini kehabisan stok selama sepekan. Ketika restock, BBM Shell mengalami kelangkaan stok kembali dalam waktu singkat.

“Shell Rawa Buntu semingguan kosong, pas restok eh 2 hari (jenis BBM Shell) Super sudah kosong lagi,” tulisnya.

Bukan Kasus Pertama

Dan ternyata, kasus gangguan stok BBM Shell di sejumlah SPBU Shell bukan kali ini terjadi. Awal Januari dan Februari tahun ini, Shell juga mengalami hal serupa.

Dikutip dari kompas.com, pada forum diskusi otomotif Indonesia, SerayaMotor, akun @peterming menyebutkan bahwa stok BBM di SPBU Shell kawasan Surabaya kosong sejak awal Januari 2025, dan kekosongan juga terjadi di Bandung.

Lalu, di media sosial X, akun @rxxxa mengangkat isu yang sama, menyebutkan stok BBM di SPBU Shell kawasan Bandung kosong selama beberapa hari tanpa kejelasan kapan ketersediaan akan normal kembali.

"Pemandangan menyedihkan di SPBU kerang kuning Jl. Kebon Kawung Bandung. Stok semua jenis BBM di SPBU ini habis total, sudah berhari-hari tanpa ada kejelasan kapan akan tersedia kembali. Kasian para pegawai SPBU-nya hanya bisa jualan kopi sambil termanggu," bunyi posting tersebut.

Selanjutnya, pada awal Februari lalu, masyarakat pun mengeluhkan jika SPBU Shell di Jalan Diponegoro, Setiamekar, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, mengalami kekosongan BBM.

Keadaan serupa juga tampak di Shell Jalan Sultan Agung, Harapan Mulya, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi. Namun, di sini tidak ada pagar pembatas di pintu masuk.

Selain di wilayah tersebut, lokasi SPBU Shell yang sempat kosong BBM antara lain di Kawasan, Bojongsari, Depok, SPBU Shell Pondok Cabe, SPBU Shell di Ciledug, SPBU Shell di Ceger, Pondok Aren, serta SPBU Shell di Bintaro Veteran.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ingrid Siburian, Pemimpin Shell Indonesia

Respons Shell

Shell Indonesia akhirnya buka suara perihal kosongnya beberapa stok produk BBM di SPBU Shell tersebut.

President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian, menyatakan bahwa perusahaan saat ini tengah berupaya mengisi kembali pasokan BBM di seluruh jaringan SPBU Shell guna memenuhi kebutuhan pelanggan.

"Shell Indonesia berkomitmen untuk terus menerapkan standar keselamatan terbaik, termasuk dalam mendistribusikan BBM ke seluruh SPBU Shell," terang Ingrid, dikutip dari Kontan, baru-baru ini.

Sebelumnya, dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/2/2025) lalu, Ingrid mengatakan bahwa Shell mengalami keterlambatan pengiriman stok BBM akibat gangguan dari sisi suplai atau rantai pasok.

“Akan tetapi, hambatan tersebut memang merupakan kondisi yang di luar kendali kami, karena yang dapat kami fokuskan adalah hal-hal yang memang dapat kami kendalikan, yaitu pertama kami telah menyampaikan permohonan neraca komoditas (ke Kementerian ESDM) untuk 2025 sebagai dasar untuk mendapatkan persetujuan impor pada September 2024,” beber Ingrid.

Dengan kata lain, Inggrid mensinyalir awal mula kelangkaan BBM di SPBU Shell sudah terjadi sejak September tahun lalu, saat perseroan mengajukan permohonan neraca komoditas untuk mengantongi izin impor BBM dari pemerintah.

​​“Kami juga melakukan korespondensi dengan kementerian terkait, yaitu Kementerian ESDM, dan menyampaikan apa saja risiko yang akan terjadi—misalnya potensi stock out — apabila terjadi keterlambatan dari sisi suplai,” ujarnya.

Shell, dikatakan Ingrid, baru mendapatkan persetujuan neraca komoditas dari Kementerian ESDM pada 20 Januari 2025, sedangkan persetujuan impor dari Kementerian Perdagangan baru dikantongi pada 23 Januari 2025. Sementara, pada saat itu kondisi pasokan BBM Shell hampir kosong yakni hanya 25%.

"Jadi kalau kita lihat, perizinannya membutuhkan waktu yang lebih lama dari sebelumnya, karena kami juga sudah sampaikan pada September, tetapi kami baru mulai Januari,” paparnya.

"Jadi ada 25 persen yang mengalami stock out untuk beberapa varian. Tentunya kami juga berusaha memitigasi dengan cara membagi stok jadi untuk setiap daerah Bapak-Ibu kita tetap ada jangan sampai benar-benar stock out," tambah Ingrid.

Lebih lanjut, Inggrid menjelaskan meski Shell telah mendapatkan persetujuan impor, proses untuk pemenuhan stok ke semua SPBU memerlukan waktu.

"Dari mulai penunjukan kapal, persiapan produk sampai juga kami harus bongkar di terminal, pengetesan dan sampai distribusi dari terminal ke SPBU itu membutuhkan waktu sekitar hampir 20 hari," kata dia.

Respon Pemerintah

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyebut gangguan pasokan BBM di SPBU Shell dipicu oleh tingginya permintaan dari konsumen.

Anggota Komite BPH Migas, Saleh Abdurrahman, mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan dari instansinya, stok BBM shell sebenarnya masih tersedia di terminal bahan bakar minyak (TBBM).

“Namun, terjadi peningkatan permintaan BBM dari konsumen dan Shell sedang berupaya memenuhi permintaan tersebut,” tuturnya saat dimintai konfirmasi, Rabu (26/3/2025).

Saleh pun mengatakan BPH Migas berharap Shell dapat segera menyelesaikan isu gangguan pasokan BBM di SPBU-nya, terutama karena periode puncak konsumsi Ramadan-Idulfitri (Rafi) sudah makin dekat.

Baca Juga: Shell Tutup Seluruh SPBU di Indonesia? Ini Penjelasannya...