Demensia kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan yang wajar. Padahal, kondisi ini bukan sekadar pikun biasa. Demensia merupakan kumpulan gejala yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, bahasa, hingga perilaku seseorang, bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Seiring bertambahnya usia, seseorang memang bisa mengalami penurunan daya ingat. Namun, pada penuaan normal, perubahan tersebut umumnya tidak sampai mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani rutinitas secara mandiri. Berbeda dengan demensia, gangguan kognitif yang terjadi dapat semakin memburuk dan memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Baca Juga: Benarkah Stres Bisa Menyebabkan Demensia? Ini Penjelasan Neuropsikolog

Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab, jenis, serta gejala demensia agar tanda-tandanya dapat dikenali sejak dini dan penanganan yang tepat bisa segera dilakukan.

Apa yang Menyebabkan Demensia?

Demensia terjadi ketika sel-sel saraf di otak mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Dampaknya bergantung pada bagian otak yang terdampak.

Jika area yang berperan dalam memori mengalami gangguan, misalnya, seseorang dapat kesulitan mengingat informasi baru. Sementara itu, kerusakan pada bagian otak yang mengatur bahasa, penalaran, atau perilaku dapat menimbulkan gejala yang berbeda.

Meski dapat dialami siapa saja, risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia. Riwayat keluarga juga dapat berperan, terutama pada kondisi tertentu yang memiliki komponen genetik.

Selain faktor usia dan keturunan, sejumlah kondisi kesehatan turut dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Di antaranya adalah hipertensi, diabetes, obesitas, dan depresi. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta pola tidur yang buruk juga perlu diperhatikan.

Baca Juga: Studi: Lansia yang Rutin Memasak Berisiko Lebih Rendah Alami Demensia

Kabar baiknya, sebagian faktor risiko tersebut dapat dikelola melalui perubahan gaya hidup dan pengendalian kondisi kesehatan. Sebuah kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's Research & Therapy oleh Montero-Odasso, Ismail, dan Livingston membahas potensi pencegahan demensia melalui pengelolaan berbagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Meski demikian, pencegahan demensia bukan perkara sederhana. Bukti ilmiah mengenai efektivitas intervensi tertentu masih terus berkembang. Karena itu, menjaga kesehatan otak sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh, bukan sebagai jaminan bahwa seseorang akan terbebas dari demensia.

Mengenal Jenis-Jenis Demensia

Demensia bukanlah satu penyakit tunggal. Kondisi ini memiliki beberapa jenis dengan penyebab dan karakteristik gejala yang berbeda.

Penyakit Alzheimer merupakan penyebab demensia yang paling umum. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan biologis di otak, termasuk penumpukan protein abnormal, yang merusak sel-sel saraf secara bertahap.

Gejala awalnya sering berupa kesulitan mengingat kejadian atau informasi baru, kemudian berkembang hingga mengganggu kemampuan berpikir dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Jenis berikutnya adalah demensia vaskular, yang berkaitan dengan gangguan aliran darah ke otak. Kondisi ini dapat terjadi setelah stroke atau akibat kerusakan pembuluh darah otak. Gejalanya bisa berupa kesulitan merencanakan sesuatu, memperlambat proses berpikir, serta gangguan konsentrasi.

Baca Juga: Riset Monash University Ungkap Faktor Risiko dan Pencegahan Demensia

Ada pula demensia dengan Lewy body (dementia with Lewy bodies), yang dapat ditandai dengan halusinasi visual, perubahan kemampuan berpikir yang berfluktuasi, gangguan tidur, dan gejala gerakan yang menyerupai penyakit Parkinson.

Sementara itu, demensia frontotemporal cenderung memengaruhi kepribadian, perilaku, pengendalian diri, atau kemampuan berbahasa. Pada sebagian orang, perubahan perilaku justru muncul lebih awal dibandingkan gangguan daya ingat.

Seseorang juga dapat mengalami lebih dari satu jenis demensia secara bersamaan. Kondisi ini dikenal sebagai demensia campuran.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Alzheimer dan demensia bukanlah dua istilah yang dapat digunakan secara bergantian. Alzheimer merupakan salah satu penyebab demensia, sedangkan demensia adalah istilah umum untuk gangguan kognitif yang cukup berat hingga mengganggu kemandirian seseorang.

Gejala Demensia yang Perlu Diwaspadai

Gejala demensia umumnya berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, perubahan yang muncul mungkin terlihat ringan sehingga kerap dianggap sebagai akibat bertambahnya usia. Namun, seiring waktu, gangguan tersebut dapat semakin jelas.

Pada tahap awal, seseorang mungkin sering lupa terhadap kejadian yang baru dialami, kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara, atau berulang kali menanyakan hal yang sama. Sebagian orang juga mulai kesulitan mengingat janji, mengatur jadwal, maupun mengikuti percakapan yang cukup kompleks.

Memasuki tahap menengah, gangguan kognitif biasanya mulai berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari. Penderita dapat kesulitan mengelola keuangan, lupa membayar tagihan, tersesat di jalan yang sudah dikenal, atau mengalami kebingungan mengenai waktu dan tempat.

Perubahan perilaku dan suasana hati juga dapat muncul. Seseorang mungkin menjadi lebih mudah cemas, mudah tersinggung, atau menunjukkan perubahan kepribadian yang sebelumnya tidak biasa.

Pada tahap lanjut, penderita dapat mengalami gangguan daya ingat dan kemampuan komunikasi yang lebih berat. Mereka mungkin tidak lagi mengenali anggota keluarga, kesulitan memahami lingkungan sekitar, serta membutuhkan bantuan untuk aktivitas dasar, seperti makan, mandi, berpakaian, dan bergerak.

Meski demikian, perkembangan gejala tidak selalu sama pada setiap orang. Jenis demensia, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi perjalanan penyakit.

Bagaimana Membedakan Demensia dan Pikun Biasa?

Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah perbedaan antara lupa yang masih wajar dan gangguan daya ingat yang perlu diperiksa.

Lupa sesekali menaruh barang, misalnya, dapat terjadi pada siapa saja. Begitu pula dengan sesaat kesulitan mengingat nama seseorang, tetapi kemudian berhasil mengingatnya kembali.

Sebaliknya, gangguan yang patut diwaspadai adalah ketika seseorang berulang kali melupakan informasi penting, kesulitan mengikuti langkah-langkah kegiatan yang sebelumnya dikuasai, atau tidak mampu menyelesaikan rutinitas yang dahulu dapat dilakukan secara mandiri.

Perubahan yang terus berulang, semakin memburuk, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari perlu mendapat perhatian. Terlebih jika perubahan tersebut disertai kebingungan mengenai tempat, waktu, atau orang-orang terdekat.

Namun, gangguan daya ingat tidak selalu berarti demensia. Masalah tidur, efek samping obat, gangguan suasana hati, serta sejumlah kondisi medis lain juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan mengingat. Karena itu, pemeriksaan tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.

Bisakah Risiko Demensia Dikurangi?

Meskipun tidak semua kasus demensia dapat dicegah, menjaga kesehatan otak dan mengendalikan faktor risiko merupakan langkah yang patut dilakukan.

Salah satunya dengan menjaga tekanan darah, kadar gula darah, dan berat badan tetap terkendali. Langkah ini penting karena kesehatan pembuluh darah berkaitan erat dengan kesehatan otak.

Aktivitas fisik secara teratur juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan pembuluh darah. Selain itu, pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, serta menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehat.

Tidak kalah penting, tetap aktif secara sosial dan mental. Berinteraksi dengan keluarga atau teman, melakukan kegiatan yang disukai, membaca, serta mempelajari hal baru dapat menjadi bagian dari rutinitas yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Berbagai langkah tersebut tidak menjamin seseorang terhindar sepenuhnya dari demensia. Namun, mengelola faktor risiko dapat membantu menjaga kesehatan jangka panjang sekaligus mengurangi risiko sejumlah penyakit yang berkaitan dengan penurunan fungsi otak.

Jangan Menunggu Gejala Demensia Semakin Parah

Mengenali gejala demensia sejak dini merupakan langkah penting agar seseorang dapat memperoleh pemeriksaan dan dukungan yang sesuai. Jika anggota keluarga mulai menunjukkan perubahan daya ingat, kemampuan berpikir, atau perilaku yang semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai hal yang wajar karena usia.

Konsultasi dengan dokter dapat membantu menilai fungsi kognitif, menelusuri kemungkinan penyebab, serta menentukan pemeriksaan lanjutan jika diperlukan. Diagnosis dini juga memberi kesempatan bagi penderita dan keluarga untuk merencanakan perawatan, menyesuaikan lingkungan, serta mempersiapkan dukungan yang dibutuhkan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa demensia bukan sekadar persoalan lupa. Kondisi ini dapat memengaruhi kemandirian, hubungan sosial, dan kualitas hidup seseorang.

Dengan memahami gejalanya dan tidak menunda pemeriksaan, keluarga dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk mendampingi orang terdekat yang mengalami perubahan tersebut.