Namun, Vidjongtius menegaskan bahwa keberadaan sistem dan SDM yang kompeten belum otomatis membuat delegasi berhasil.
Menurutnya, tantangan juga datang dari sisi pemimpin. Seorang leader harus memiliki kemauan untuk melepaskan sebagian kewenangan dan tidak terus-menerus memegang seluruh pekerjaan sendiri.
“Kalau jawabannya itu masih one man show, ya pasti susah. Jadi melepaskan dengan membangun sistem tadi, otomatis secara berjalannya waktu tertentu trust ini muncul,” ujarnya.
Vidjongtius lantas menambahkan, meski kepercayaan telah terbentuk, seorang pemimpin tetap perlu memiliki kemauan untuk benar-benar mendelegasikan tugas.
Sebab, kata dia, ada kalanya seorang leader masih memiliki kecenderungan untuk mengerjakan atau mengendalikan semuanya sendiri sehingga delegasi tidak berjalan optimal.
Karena itu, menurut Vidjongtius, delegasi membutuhkan kesiapan dari dua arah, yakni organisasi dan individu pemimpin. Sistem harus siap, orang yang menerima tanggung jawab juga harus siap, sementara pemimpin harus bersedia memberikan ruang kepada timnya untuk mengambil peran.
“Saya sebagai leader, saya harus rela melepaskan sebagian tugas saya lewat orang lain. Sehingga manajer itu adalah manajer orang. Sukses karena suksesnya lewat orang,” punks Vidjongtius.
Baca Juga: Mengenal Format Meeting Efektif di Kantor ala Vidjongtius