Industri kecantikan di Indonesia tengah bergerak menuju fase baru yang lebih dinamis dan strategis dalam peta industri barang konsumsi.
CEO Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, menilai bahwa sektor personal care dan kosmetik akan menjadi salah satu andalan utama dalam industri consumer goods di masa depan.
Pandangan ini bukan tanpa dasar, melainkan merujuk pada kajian global yang dirilis oleh McKinsey & Company, yang menempatkan industri ini sebagai salah satu yang paling menjanjikan.
Kilala menggambarkan posisi industri personal care dengan istilah yang kuat.
“Ini adalah suatu market yang dibilang the darling of consumer goods. Jadi di sektor consumer goods, personal care ini memacu total pergerakan industri secara keseluruhan. Luar biasa,” tutur Kilala, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Jumat (24/4/2026).
Pernyataan Kilala ini mencerminkan bagaimana sektor kecantikan tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan motor utama yang mendorong pertumbuhan industri konsumsi secara global.
Adapun, menurut Kilala, salah satu faktor kunci di balik pesatnya perkembangan ini adalah dominasi produk perawatan kulit atau skincare.
Dalam beberapa tahun terakhir, kategori ini menjadi kontributor terbesar dalam ekspansi pasar. Kilala menegaskan bahwa tren tersebut masih akan berlanjut.
“Data yang terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan di dunia kosmetik dan personal care ini 45 persennya didorong dari pertumbuhan dan jualan skincare,” jelasnya.
Skincare pun disebut sebagai lokomotif industri, yang terus menarik pertumbuhan diikuti oleh kategori lain seperti handcare dan produk dekoratif.
Optimisme terhadap industri ini semakin kuat dengan proyeksi nilai pasar global yang terus meningkat. Mengutip laporan McKinsey, Kilala menyebut bahwa pada tahun 2030, nilai pasar personal care diperkirakan mencapai USD600 hingga USD700 miliar.
“Dan nanti di tahun 2030 akan diprediksi menjadi USD600–700 miliar,” ungkapnya.
Angka tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa industri kecantikan memiliki potensi jangka panjang yang sangat besar, baik secara global maupun di Indonesia.
Baca Juga: Kilala Tilaar Ungkap Hal Ini yang Jadi Tantangan Jalankan Bisnis Keluarga
Lebih jauh, Kilala menjelaskan bahwa pertumbuhan skincare tidak terjadi secara kebetulan, melainkan didorong oleh perubahan preferensi konsumen yang semakin kompleks.
Awalnya, kata Kilala, ada beberapa tren besar yang berkembang secara terpisah, mulai dari kebutuhan akan produk multifungsi, meningkatnya kesadaran terhadap keberlanjutan, pentingnya pengalaman sensorial saat menggunakan produk, hingga ketertarikan terhadap bahan alami.
Namun, sejak 2023, seluruh tren tersebut mulai menyatu dan membentuk arah baru industri.
“Sejak tahun 2023, empat tren ini melebur menjadi satu megatrend yang kuat, yaitu dimana orang sudah bergeser melihat industri beauty ini menjadi industri cantik lahir dan batin,” kata Kilala.
Pergeseran ini menandai perubahan mendasar dalam cara konsumen memandang kecantikan. Tidak lagi sekadar soal penampilan luar, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan tubuh dan keseimbangan diri.
Kilala melihat bahwa industri kecantikan kini bergerak menuju konsep yang lebih holistik.
“Artinya, cantik rupa tetapi juga sehat badan. Jadi industri ini sudah menuju ke arah wellness,” lanjutnya.
Transformasi ini kemudian berkembang lebih jauh dalam bentuk megatrend yang disebut ‘Beyond Wellness’, yang diprediksi akan mendominasi periode 2023 hingga 2027.
“Di tahun 2023–2027, ini terciptalah suatu mega trend besar, yang kita sebut adalah Beyond Wellness. Yang artinya, semua tren itu menunjuk kepada kesehatan raga dan jiwa daripada manusia,” tutup Kilala.
Baca Juga: Cerita Kilala Tilaar yang Sempat Putus Asa dan Ingin Angkat Kaki dari Martha Tilaar Group