Tiga dekade mengembangkan layanan neuroscience di Indonesia menjadi momentum bagi Siloam Hospitals Lippo Village untuk memperkuat keahlian klinis, inovasi, pendidikan, penelitian, serta kolaborasi dalam menangani berbagai kondisi neurologis dan bedah saraf kompleks.
CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan, perjalanan 30 tahun tersebut menjadi momentum untuk mensyukuri berbagai pencapaian sekaligus menghargai orang-orang yang berada di balik perkembangan layanan neuroscience di Siloam Hospitals Lippo Village.
“Kalau kita melihat perjalanan selama 30 tahun Neuroscience Center, saya rasa satu kata yang paling tepat adalah syukur. Yang saya rasakan adalah penuh syukur,” ujar Caroline dalam The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026.
Menurut Caroline, perjalanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan perkembangan layanan klinis dan teknologi, tetapi juga mencakup pendidikan, penelitian, inovasi, serta pelayanan yang berpusat pada pasien.
“30 tahun ini bukan hanya perjalanan klinis, tetapi juga perjalanan pendidikan, penelitian, inovasi, dan paling penting adalah pelayanan berpusat pada pasien. Dan kalau kita berbicara mengenai 30 tahun, sebenarnya yang kita bicarakan bukan teknologinya, bukan gedungnya, melainkan orang-orang yang membangun,” kata Caroline.
Caroline menilai, kontribusi terhadap perkembangan neuroscience tidak hanya datang dari dokter dan clinical leaders, tetapi juga perawat, radiografer, serta berbagai tim yang bekerja di balik layar.
“Begitu banyak yang ikut membangun pelayanan Neuroscience ini. Juga tentu perawat di ward, ICU, radiografer, dan juga banyak tim yang di belakang layar,” tuturnya.
Menurut Caroline, dampak dari perjalanan tersebut kini tidak hanya dirasakan di Siloam Hospitals Lippo Village. Pengembangan pusat neuroscience juga telah meluas ke sejumlah rumah sakit Siloam lainnya, termasuk di Kebon Jeruk, TB Simatupang, Medan, dan Bali.
“Jadi dampak dari perjalanan 30 tahun ini sudah melampaui satu rumah sakit. Makanya ini kan temanya adalah Beyond Boundaries, karena sudah melampaui juga,” katanya.
Caroline menjelaskan, otak merupakan organ yang sangat kompleks dan memiliki peran penting dalam berbagai fungsi manusia, mulai dari berpikir, mengingat, merasakan, mengambil keputusan, hingga membentuk perilaku.
Karena itu, kata dia, pengembangan layanan neuroscience menurutnya harus terus diarahkan pada peningkatan kualitas dan ketepatan pelayanan.
“Kita tidak boleh puas dengan good enough, tapi kita harus terus mengejar excellence, mengejar presisi, terus berinovasi, memperbaiki standar, dan perkembangan ilmu teknologi terus berkembang dengan luar biasa,” ujarnya.
Perkembangan teknologi, lanjut Caroline, semakin memungkinkan tenaga medis memberikan penanganan yang presisi dan aman. Namun, teknologi bukan menjadi tujuan akhir karena keberhasilan layanan pada akhirnya ditentukan oleh manfaat yang dirasakan pasien.
“Dari terobosan yang dulu dimulai di Lippo Village, operasi batang otak yang pertama, dan juga teknologi-teknologi, sekarang terus teknologi memampukan kita untuk semakin presisi, semakin safe, semakin baik lagi,” katanya.
“Karena pada akhirnya kemajuan yang kita rayakan, robotic surgery, neuro intervention, stroke treatment, precision medicine dan lain sebagainya, itu bukanlah tujuan akhir. Tapi yang paling penting adalah dampak pada kehidupan pasien yang kita rawat,” lanjut Caroline.
Ia kemudian membagikan kisah seorang direktur senior perusahaan yang pernah menjalani perawatan selama sekitar satu bulan di Siloam Hospitals Lippo Village. Pasien tersebut sempat mengalami berbagai keterbatasan setelah operasi, termasuk kesulitan berbicara, menulis, dan mengingat.
Menurut Caroline, pasien tersebut terus mendapatkan dukungan dari tim dokter untuk menjalani proses pemulihan hingga akhirnya dapat kembali beraktivitas dan menduduki posisi sebagai direktur senior di sebuah perusahaan besar.
“Dia bilang saat itu teman-teman saya sudah siap untuk melepas saya, tapi ternyata Tuhan kasih saya kesempatan yang kedua,” ujar Caroline.
“Kata dia bilang, Tuhan baik. Dan ini kan yang jadi tujuan dari kita semua,” lanjutnya.
Memasuki babak berikutnya, Caroline juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam memastikan keberlanjutan layanan neuroscience. Melalui PPDS Neurologi dan Bedah Saraf di FKUPH, Siloam turut mengambil peran dalam mempersiapkan generasi dokter spesialis yang akan meneruskan pengembangan layanan tersebut.
“Kita juga mendapatkan kehormatan yang luar biasa. Karena kita mendapat kehormatan, tanggung jawab untuk mendidik generasi berikutnya, dari dokter-dokter spesialis yang akan meneruskan perjalanan ini,” katanya.