Karena itu, Vidjongtius mengatakan dirinya berupaya mencegah agar konflik di tingkat direksi tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di dalam organisasi.
Prinsip we are in the same boat atau berada dalam satu perahu menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk membangun rasa kebersamaan tersebut.
“Nah, itu zamannya waktu saya. Saya bilang tidak boleh terjadi. Jadi kita mencoba minimalisirnya seperti itu dengan kita bilang we are in the same boat,” katanya.
Kekompakan di tingkat direksi kemudian diturunkan melalui pembinaan terhadap anggota organisasi. Vidjongtius menjelaskan, setiap anggota direksi memiliki peran dalam membina orang-orang di bawahnya melalui coaching dan counseling, sehingga potensi munculnya pemikiran atau sikap negatif da
pat segera ditangani.
“Sehingga masing-masing direksi punya orang-orang yang dia bina. Coaching and counseling itu. Supaya kalau ada yang mau berpikir negatif, itu sudah dibalikin lagi,” jelasnya.
Selain coaching dan counseling, proses tersebut juga diperkuat dengan mentoring dan pemberian umpan balik.
Menurut Vidjongtius, langkah-langkah tersebut merupakan turunan dari kesepakatan yang dibangun di tingkat direksi untuk menjaga organisasi tetap berada dalam satu arah.
“Ada mentoringnya, ada C&C-nya, ada feedback-nya nanti misalnya. Jadi itulah turunan daripada kesepakatan tadi. Sehingga kita bisa meminimalisir,” paparnya.
Meski demikian, Vidjongtius mengakui bahwa perbedaan pandangan atau ketidakpuasan tetap dapat muncul dalam sebuah organisasi.
Dalam kondisi tersebut, persoalan perlu diselesaikan sedini mungkin agar tidak berkembang menjadi kelompok-kelompok yang saling berseberangan.
“Seandainya ada yang nggak happy, blok sana, blok sini, boleh kita turunkan ke serendah-rendahnya. Kalau sampai nanti tidak bisa pun, ya harus ada ketok palu lagi. Kalau sampai itu tajam, ya satu titik yang memang harus diselesaikan,” pungkasnya.
Baca Juga: Vidjongtius Ungkap Strategi Kalbe Farma Mendorong Inovasi dan Ekspansi