Liburan sekolah identik dengan waktu bersantai, bepergian, dan menikmati kebebasan dari rutinitas belajar. Namun, bagi keluarga yang memiliki anak neurodivergent, masa liburan justru dapat menghadirkan tantangan tersendiri.

Perubahan jadwal yang drastis, aktivitas yang tidak terstruktur, hingga lingkungan baru sering kali memicu kecemasan dan kesulitan adaptasi pada anak.

Anak neurodivergent mencakup mereka yang memiliki kondisi seperti Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), disleksia, maupun gangguan pemrosesan sensorik.

Bagi mereka, rutinitas yang konsisten bukan sekadar kebiasaan, melainkan fondasi penting yang memberikan rasa aman dan membantu mengatur emosi.

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono, dalam ajang Special Kids Expo (SPEKIX) 2024 mengungkapkan bahwa sekitar 2,4 juta anak Indonesia diperkirakan berada dalam spektrum autisme.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 8,3 juta anak Indonesia mengalami ADHD. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan akan dukungan dan pendampingan yang tepat bagi keluarga dengan anak neurodivergent.

Menurut Ries Sansani, Occupational Therapist sekaligus Lead Coach di Atelier of Minds, liburan sekolah sebenarnya dapat menjadi kesempatan berharga untuk mendukung perkembangan anak jika dijalani dengan strategi yang tepat.

“Libur sekolah bukan musuh anak neurodivergent. Yang menjadi tantangan adalah ketidaksiapan transisi. Ketika orang tua tahu bagaimana menciptakan struktur yang fleksibel dan lingkungan yang aman secara sensorik, liburan bisa menjadi waktu yang benar-benar bermakna untuk perkembangan anak,” tutur Ries, sebagaimana Olenka kutip dari keterangan resminya, Kamis (11/6/2026).

Nah, agar masa liburan tetap menyenangkan sekaligus mendukung kebutuhan anak, berikut enam tips praktis yang dapat diterapkan orang tua. 

1. Buat Kalender Visual Liburan Sejak Awal

Sebelum hari pertama libur dimulai, luangkan waktu untuk menyusun kalender visual bersama anak. Orang tua dapat menggunakan gambar, stiker, emoji, atau warna-warna tertentu untuk menandai berbagai aktivitas yang akan dilakukan setiap hari.

Pendekatan visual membantu anak memahami apa yang akan terjadi dan mengurangi rasa cemas akibat ketidakpastian. Selain itu, kegiatan ini juga bisa menjadi aktivitas menyenangkan yang melibatkan anak dalam proses perencanaan liburan.

Menurut Ries, jadwal visual memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar alat pengingat.

“Visualisasi jadwal bukan sekadar alat bantu, ini adalah bahasa keamanan bagi otak anak neurodivergent. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, otak tidak perlu bekerja keras untuk waspada, sehingga energi bisa dialihkan untuk belajar dan bermain,” jelas Ries.

Baca Juga: Perjalanan Menerima, Memahami, dan Bertumbuh Bersama Anak Neurodivergent ala Wina Natalia