Vidjongtius menekankan, seorang pemimpin harus memastikan setiap bagian dalam organisasi memiliki fungsi yang jelas dan mampu bekerja ketika kondisi perusahaan sedang baik maupun ketika menghadapi tekanan.
“Sebagai suatu pimpinan atau pengorganisasi yang baik, memang kita harus punya organ-organ yang tadi saya sebutkan, sehingga dia tuh ready membantu kita pada saat situasi lagi baik dan pada saat situasi lagi susah,” tuturnya.
Lebih jauh, Vidjongtius kemudian memberikan gambaran mengenai bagaimana sistem yang kuat dapat membantu manajemen ketika menghadapi perubahan eksternal. Salah satu contohnya adalah ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
“Sekarang misalnya kurs rupiah Rp18 ribu, nah itu mau gimana? Mau salahkan siapa? Kan nggak bisa. Tapi sistem langsung bekerja, langsung cek,” kata Vidjongtius.
Menurutnya, dalam kondisi seperti itu, setiap bagian dalam organisasi harus mampu menjalankan perannya masing-masing. Data dan informasi yang dihasilkan kemudian menjadi dasar bagi jajaran direksi untuk menentukan langkah yang tepat.
“Jadi mereka masing-masing organ-organnya sudah bekerja. Sehingga BOD-nya nih, Dewan Direksi, dikasih data yang komplit yang memudahkan mereka untuk mengambil arahan. Karena hitungannya sudah ada,” jelasnya.
Ia pun menambahkan, mekanisme tersebut bukan sekadar konsep dalam manajemen, melainkan telah diterapkan dalam praktik di jajaran direksi.
Dengan sistem yang bekerja dan orang-orang yang kompeten, kata dia, perusahaan dapat lebih siap menghadapi berbagai perubahan tanpa harus menunggu masalah membesar.
“Contoh yang secara praktiknya memang begitu. Itu kejadian seperti di BOD-BOD kita,” pungkas Vidjongtius.
Baca Juga: Presdir Kalbe: Pemimpin Harus Berani Salah untuk Mendorong Inovasi