Nah, bagi masyarakat yang belum memiliki modal besar, Nadia menyarankan agar mulai memperkuat kondisi keuangan dengan menyiapkan dana tunai atau cash reserve. Tujuannya, agar ketika peluang investasi datang, mereka memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya.

"Kalau memang kamu punya kemampuan, tahan diri sedikit, biar punya cash, biar nanti punya kesempatan untuk beli aset murah," ujarnya.

Menurut Nadia, memiliki dana menganggur bukan berarti membiarkan uang tidak berkembang, melainkan mempersiapkan likuiditas untuk mengambil peluang ketika harga aset berada di level menarik.

Di sisi lain, Nadia melihat kesadaran masyarakat untuk belajar investasi terus meningkat. Pengalaman tersebut ia rasakan saat menjadi pembicara dalam sebuah acara edukasi investasi syariah yang dihadiri peserta dari berbagai latar belakang.

"Aku senang karena sempat datang di acara investasi syariah. Ternyata banyak banget yang datang dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan yang background-nya dari pesantren sekarang mau belajar saham. Seru banget," ungkapnya.

Dikatakan Nadia, tidak hanya kalangan muda, masyarakat berusia di atas 50 tahun pun mulai tertarik memahami investasi.

"Ada juga ibu-ibu yang sudah lima puluhan. Masih semangat dan sempat tanya ke aku, 'Masih relevan nggak sih kita beli saham?'"

Menjawab pertanyaan tersebut, Nadia menegaskan bahwa investasi saham tetap relevan selama dilakukan dengan pemahaman yang baik dan disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.

"Kalau aku jawabnya, sebenarnya relevan-relevan saja. Karena kondisi seperti ini kan tidak selamanya. Kalau kita lihat dari grafik saham, pasti ada siklusnya," tutup Nadia.

Baca Juga: Financial Planner Ungkap Siapa Sebenarnya Generasi Sandwich, Ternyata Bukan Hanya Anak Muda