Growthmates, candaan menarik kursi saat seseorang hendak duduk mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat berujung pada cedera serius. Jika korban terjatuh dan mengalami benturan keras pada tulang belakang, dampaknya bahkan dapat berkaitan dengan cedera sumsum tulang belakang atau spinal cord injury (SCI).
Cedera tersebut tidak hanya dapat memengaruhi kemampuan bergerak, tetapi juga mengganggu fungsi sensorik dan refleks organ tubuh. Pada kondisi tertentu, cedera tulang belakang bahkan berpotensi mengancam nyawa.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Citra Ariani, Sp KP, M Biomed,memaparkan bahwa cedera sumsum tulang belakang terjadi ketika trauma atau luka fisik merusak bagian dari sistem saraf pusat yang berada di dalam tulang belakang.
“Kerusakan dapat terjadi langsung saat benturan maupun berkembang setelahnya melalui proses cedera sekunder,” ungkap dr. Citra, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Senin (14/9/2026).
Menurut dr. Citra, trauma keras pada tulang belakang dapat menyebabkan cedera primer yang merusak sel-sel saraf atau pembuluh darah yang memperdarahi serabut saraf.
Kerusakan tersebut kemudian dapat berkembang melalui cedera sekunder, yakni rangkaian reaksi biologis yang memperluas kerusakan melalui proses peradangan.
“Proses cedera sekunder dapat terjadi dari hitungan menit hingga berbulan-bulan setelah trauma terjadi,” jelas dr. Citra yang juga pakar ilmu biomedik fisiologi.
Dampak cedera pun bergantung pada bagian sumsum tulang belakang yang mengalami kerusakan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hilangnya fungsi sensorik, motorik, atau keduanya.
Gangguan sensorik dapat berupa hilangnya kemampuan merasakan sentuhan, panas, atau nyeri, sedangkan gangguan motorik dapat menyebabkan kelemahan hingga kelumpuhan.
“Spinal cord injury juga dapat mengganggu fungsi saraf otonom. Salah satunya adalah hilangnya kontrol untuk menahan buang air kecil. Nyeri neuropatik akibat cedera sekunder pun dapat bertahan lama dan mengganggu kualitas hidup,” tambahnya.
Baca Juga: Bisa Bikin Perut Kram Hingga Jantung Berdebar, Ini Bahaya Konsumsi Magnesium Secara Berlebihan!
dr. Citra menjelaskan, cedera tulang belakang juga tidak selalu langsung terlihat berat setelah seseorang terjatuh.
Korban yang masih sadar dan dapat berbicara setelah mengalami trauma belum tentu berada dalam kondisi aman. Karena itu, kondisi korban perlu diperhatikan secara serius, terutama jika terdapat tanda-tanda gangguan saraf.
“Pada cedera servikal yang berat, juga terdapat kemungkinan gagal napas karena gangguan saraf yang mengendalikan otot-otot pernapasan,” ujar dr. Citra.
Lebih lanjut, dr. Citra menegaskan, orang yang mengalami jatuh atau trauma pada daerah tulang belakang perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Korban juga tidak boleh sembarangan dipindahkan tanpa stabilisasi yang baik karena tindakan tersebut dapat memperparah cedera.
Ia pun memaparkan, beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai setelah seseorang mengalami trauma antara lain nyeri punggung hebat, rasa menekan di leher atau kepala, kelumpuhan mendadak, kesulitan menggerakkan bagian tubuh, rasa baal, hilangnya kontrol buang air kecil atau besar, serta penurunan kesadaran.
Pencegahan juga menjadi hal penting, kata dia, terutama di lingkungan sekolah. Candaan yang melibatkan tindakan fisik perlu dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan agar tidak menimbulkan risiko cedera serius.
“Orang tua dan guru perlu memberi contoh kepada anak-anak untuk melakukan kegiatan permainan atau olahraga secara aman,” pesan dr. Citra.
Baca Juga: Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bagi Kesehatan, Ini Kata Dokter