Annisa memaparkan, rasa tenang dalam menghadapi situasi darurat juga menjadi tanda bahwa kondisi keuangan berada di jalur yang benar. Orang yang memiliki dana darurat tidak akan panik ketika dana tersebut harus digunakan.
Tak hanya itu, kata dia, mereka juga memahami pentingnya perlindungan finansial melalui asuransi dan tidak menganggap premi sebagai pengeluaran yang sia-sia.
Selain itu, mereka tidak mudah tergoda diskon, promosi, atau tren konsumsi yang tidak sesuai kebutuhan. Keputusan membeli barang dilakukan karena memang diperlukan, bukan karena takut ketinggalan promo.
"Punya dana darurat dan nggak panik kalau kepake. Nggak ngerasa ragu atau sayang uang untuk beli asuransi. Nggak beli barang hanya karena diskon, nggak peduli ketinggalan promo," ungkap Annisa.
Kondisi finansial yang sehat juga ditandai dengan kemampuan menikmati hasil kerja tanpa rasa bersalah.
Menurut Annisa, seseorang memiliki anggaran khusus untuk kebutuhan pribadi atau me time, namun tetap menjaga disiplin keuangan dengan menghindari utang konsumtif, paylater, maupun pinjaman online yang tidak produktif.
Di saat yang sama, lanjut dia, mereka juga tidak mudah tergiur investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa risiko yang jelas.
"Bisa belanja buat diri sendiri tanpa rasa bersalah dan punya budget me time. Nggak punya utang konsumtif, paylater, apalagi pinjol. Nggak tergiur invest di tempat yang katanya ngasih return fantastis tapi bilangnya tanpa risiko," tegasnya.
Bagi Annisa, keamanan finansial juga berkaitan erat dengan perencanaan jangka panjang. Orang yang sehat secara keuangan tidak hanya memikirkan kebutuhan hari ini, tetapi juga telah menyiapkan dana pensiun dan mampu membicarakan isu keuangan secara terbuka bersama pasangan, anak, maupun orang tua.
"Punya rencana pensiun dan udah mulai siapkan dananya. Bisa ngomongin uang dengan tenang sama pasangan, anak, dan orang tua," ujarnya.
Lebih lanjut, Annisa menilai bahwa kesehatan finansial bukan sekadar tentang angka dalam rekening.
Lebih dari itu, kondisi tersebut tercermin dari ketenangan batin, kemampuan mengambil keputusan keuangan yang rasional, serta keseimbangan antara mencari penghasilan dan menikmati kehidupan bersama keluarga.
"Bonus, kamu termotivasi cari uang tanpa kerja berlebihan, tanpa lupa sama keluarga. Kamu menyadari kalau rezeki itu selalu ada dan cukup untuk kita semua," pungkas Annisa.
Baca Juga: Penyakit Keuangan Anak Muda Adalah ‘Kebelet Pamer’