Karena itu, menurut Matthew, tantangan bagi brand bukan lagi sekadar menentukan siapa sosok yang memiliki jumlah pengikut paling banyak.
Yang lebih penting, lanjut dia, adalah menemukan orang yang karakter dan cara komunikasinya paling sesuai dengan identitas brand serta produk yang ditawarkan.
“I see. Tinggal tergantung karakter brand-nya aja nih. Mana yang lebih genuine, mana yang lebih pas buat marketingin produk-produk tertentu,” ujarnya.
Lebih jauh, Matthew memberikan gambaran bagaimana employee-generated content dapat bekerja secara efektif, bahkan ketika sebuah produk tidak memiliki figur publik sebagai brand ambassador.
Ia mencontohkan bisnis bakery. Dalam situasi tertentu, konsumen mungkin tidak terlalu memperhatikan siapa chef maupun sosok yang menjadi brand ambassador.
Namun, lanjut dia, pengalaman mereka ketika berinteraksi langsung dengan karyawan justru dapat membentuk persepsi terhadap brand.
Misalnya, ketika seorang karyawan melayani pelanggan dengan penuh semangat, menunjukkan kecintaan terhadap pekerjaannya, dan memberikan pelayanan yang hangat, interaksi tersebut dapat terasa lebih autentik.
“Dia udah nggak peduli chef-nya siapa, dia udah nggak peduli brand ambassador-nya siapa, atau mungkin nggak punya brand ambassador,” kata Matthew.
“Tapi the way employee itu serve the customer, dia punya passion, dia seneng banget bilang terima kasih, itu orang merasa ada genuine interaction-nya,” lanjutnya.
Baca Juga: CMO FORE Coffee: Ekspansi Bisnis Bukan Cuma soal Jumlah Toko