Growthmates, perubahan lanskap media sosial membuat strategi pemasaran ikut bergeser. Brand kini tidak lagi harus bergantung pada figur publik atau brand ambassador untuk membangun kedekatan dengan konsumen. Orang-orang yang berada paling dekat dengan produk, termasuk karyawan dan konsumen, juga dapat menjadi wajah yang kuat bagi sebuah brand.
Chief Marketing Officer FORE Coffee, Matthew Ardian, mengatakan, siapa pun pada dasarnya dapat menjadi representasi sebuah brand. Namun, pemilihannya tetap harus disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing merek.
“Menurut saya, itu bergantung pada brand. Siapapun bisa jadi brand ambassador, itu kita harus tahu dulu,” tutur Matthew, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @matthewardian, Rabu (9/9/2026).
Matthew mengatakan, perkembangan strategi pemasaran saat ini ditandai dengan semakin beragamnya sumber konten dan pengaruh. Selain brand ambassador, brand dapat memanfaatkan consumer-generated content, affiliate marketing, hingga employee-generated content.
“Itu ada consumer-generated content, ada affiliate marketing, ada justru bahkan sekarang content itu ada employee-generated content juga,” katanya.
Ia melihat, fenomena tersebut semakin mudah ditemukan di media sosial. Sejumlah brand, khususnya brand lokal maupun butik, justru mendapatkan popularitas karena konten yang dibuat oleh karyawan mereka sendiri.
Matthew pun lantas menilai, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekuatan untuk memengaruhi konsumen tidak selalu melekat pada figur terkenal. Baik karyawan, konsumen, maupun brand ambassador memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama manusia yang mampu menciptakan hubungan dengan manusia lainnya.
“Tapi tahu nggak sih kesamaan antara employee, terus konsumer, sama brand ambassador, mereka semua itu sama-sama orang. Iya kan, sama-sama orang. Nah manusia itulah yang memiliki power untuk bisa meng-influence,” tutur Matthew.
Baca Juga: Kunci Bangun Brand Kopi yang Kuat Menurut CMO FORE Coffee, Apa Saja?
Karena itu, menurut Matthew, tantangan bagi brand bukan lagi sekadar menentukan siapa sosok yang memiliki jumlah pengikut paling banyak.
Yang lebih penting, lanjut dia, adalah menemukan orang yang karakter dan cara komunikasinya paling sesuai dengan identitas brand serta produk yang ditawarkan.
“I see. Tinggal tergantung karakter brand-nya aja nih. Mana yang lebih genuine, mana yang lebih pas buat marketingin produk-produk tertentu,” ujarnya.
Lebih jauh, Matthew memberikan gambaran bagaimana employee-generated content dapat bekerja secara efektif, bahkan ketika sebuah produk tidak memiliki figur publik sebagai brand ambassador.
Ia mencontohkan bisnis bakery. Dalam situasi tertentu, konsumen mungkin tidak terlalu memperhatikan siapa chef maupun sosok yang menjadi brand ambassador.
Namun, lanjut dia, pengalaman mereka ketika berinteraksi langsung dengan karyawan justru dapat membentuk persepsi terhadap brand.
Misalnya, ketika seorang karyawan melayani pelanggan dengan penuh semangat, menunjukkan kecintaan terhadap pekerjaannya, dan memberikan pelayanan yang hangat, interaksi tersebut dapat terasa lebih autentik.
“Dia udah nggak peduli chef-nya siapa, dia udah nggak peduli brand ambassador-nya siapa, atau mungkin nggak punya brand ambassador,” kata Matthew.
“Tapi the way employee itu serve the customer, dia punya passion, dia seneng banget bilang terima kasih, itu orang merasa ada genuine interaction-nya,” lanjutnya.
Baca Juga: CMO FORE Coffee: Ekspansi Bisnis Bukan Cuma soal Jumlah Toko