Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat Program Beasiswa SDM Sawit sebagai upaya mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab kebutuhan industri kelapa sawit nasional. Tidak hanya memperluas akses pendidikan, BPDP juga menekankan pentingnya kualitas perguruan tinggi mitra dalam menghasilkan lulusan yang siap terjun ke lapangan.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan bahwa pemilihan perguruan tinggi mitra tidak semata-mata didasarkan pada reputasi atau peringkat kampus, melainkan pada kemampuan kampus dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi tantangan nyata di industri sawit.
"Frame kata terbaik itu juga harus kita lihat, terbaik bagi siapa. Perguruan tinggi bisa saja bagus dan memiliki rating tinggi, tetapi kepentingan kita adalah menyiapkan SDM untuk industri sawit. Kami tidak akan silau dengan nama perguruan tinggi yang sudah besar jika tidak memiliki komitmen mendampingi mahasiswa sampai siap bekerja di lapangan," ungkap Alfansyah, saat Media Briefing Beasiswa SDM Sawit 2026 diRuang Ballroom Lantai I BPDP, Gedung Surachman Tjokrodisurjo, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurut Alfansyah, terdapat sejumlah perguruan tinggi negeri yang mengajukan diri menjadi mitra Beasiswa SDM Sawit 2026. Namun, tidak semuanya dapat bergabung karena harus memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan BPDP.
Salah satu syarat penting adalah keterlibatan aktif kampus dalam mencarikan tempat magang dan membimbing mahasiswa selama proses pendidikan. Hal ini berbeda dengan praktik di banyak perguruan tinggi yang umumnya memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mencari lokasi magang secara mandiri.
"Di program ini kami meminta perguruan tinggi mencarikan tempat magang bagi mahasiswa. Ada tugas tambahan yang harus dipenuhi kampus mitra. Tidak semua perguruan tinggi siap menjalankan peran tersebut," katanya.
Alfansyah mengakui bahwa tantangan terbesar dalam program ini adalah memastikan materi pembelajaran dan kompetensi yang diberikan kampus benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
"Tantangan terbesar adalah bagaimana meyakinkan bahwa ilmu yang diberikan kepada mahasiswa memang dibutuhkan di lapangan. Karena itu kami terus berupaya adaptif terhadap perkembangan industri," ujarnya.
Salah satu contoh perubahan yang dilakukan adalah memasukkan penguasaan teknologi digital ke dalam proses pembelajaran. Saat ini, penggunaan drone, sistem digitalisasi, hingga teknologi berbasis data telah menjadi bagian penting dalam operasional perkebunan modern.
Selain kompetensi teknis, BPDP juga memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter dan mental mahasiswa penerima beasiswa. Menurut Alfansyah, banyak lulusan nantinya akan ditempatkan di lokasi perkebunan yang menuntut daya tahan tinggi dan kemampuan memimpin tim di lapangan.
"Kita tidak ingin baru sebulan di lapangan lalu menyerah dan pulang. Industri sawit membutuhkan tenaga kerja yang siap dan tangguh," ujarnya.
Karena itu, BPDP secara rutin menyelenggarakan pembinaan mental dan fisik bagi mahasiswa. Kegiatan tersebut bahkan dilakukan menjelang masa magang agar peserta lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Baca Juga: Beasiswa SDM Sawit 2026 Resmi Dibuka, BPDP Tambah Kuota Jadi 5.000 Penerima