Co-Founder dan Chief Executive Officer Blaize, Dinakar Munagala, menilai kawasan Asia Pasifik, terutama Indonesia, tengah berada di titik krusial dalam evolusi AI inference.
“Asia Pasifik saat ini berada pada titik krusial dalam perkembangan AI inference, dan Indonesia menonjol sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan tersebut,” ungkap Dinakar, dikutip Rabu (22/4/2026)
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan mitra lokal yang memiliki fondasi kuat.
“Datacomm memiliki fondasi infrastruktur yang kuat serta relasi enterprise yang solid. Mereka punya relasi kuat dengan pelanggan enterprise yang dibutuhkan pasar ini. Bersama-sama, kami mengeksplorasi bagaimana platform AI Blaize yang dapat diprogram dan hemat energi dapat menghadirkan nilai nyata di dunia nyata, mulai dari keamanan publik, infrastruktur cerdas, physical AI, hingga logistik di seluruh Indonesia," beber Dinakar.
"Aliansi ini menjadi fondasi yang kuat, dan kami berkomitmen untuk terus mengembangkannya,” sambung Dinakar.
Dari sisi Datacomm, Presiden Direktur sekaligus Founder, Tan Wie Tjin, menegaskan kesiapan perusahaannya dalam menyambut era AI yang semakin masif.
“Di Datacomm, kami telah menghabiskan lebih dari tiga dekade untuk membangun kepercayaan dari berbagai pelanggan enterprise, instansi pemerintah, dan operator infrastruktur kritikal di Indonesia,” ujarnya.
Ia melihat momentum ini sebagai langkah strategis yang tak terelakkan.
“Indonesia berada di ambang transformasi AI yang signifikan, dan kebutuhan akan solusi inference yang cerdas, scalable, serta aman terus meningkat di setiap sektor yang kami layani. Aliansi dengan Blaize ini merupakan langkah yang natural sekaligus menarik dalam perjalanan kami menuju era AI," tutur Tan Wie Tjin.
"Kombinasi antara infrastruktur cloud dan data center Datacomm dengan platform AI inference kelas dunia dari Blaize menempatkan kami pada posisi yang unik untuk menjawab kebutuhan tersebut. Saya menantikan berbagai peluang yang akan dihadirkan aliansi teknologi ini, baik bagi pelanggan kami maupun masa depan digital Indonesia,” lanjut Tan Wie Tjin.
Meski bersifat non-binding, MoU ini menjadi fondasi awal menuju kolaborasi yang lebih konkret.
Ke depan, kedua perusahaan membuka peluang untuk melanjutkan kerja sama melalui perjanjian lanjutan dengan fokus pada pengembangan solusi AI inference yang aman, scalable, dan hemat energi, serta mampu terintegrasi mulus dengan ekosistem cloud, data center, dan infrastruktur fisik yang telah ada di Indonesia.
Baca Juga: Finex Perkenalkan NexAI: Sinergi Kecerdasan Buatan dan Penilaian Manusia untuk Trading Lebih Cerdas