Sebuah ilustrasi tidak selalu berhenti sebagai karya yang dipajang atau dinikmati melalui layar. Di tangan kreator, karakter dan cerita yang lahir dari karya visual dapat berkembang menjadi sebuah pengalaman yang lebih luas.

Hal tersebut coba diwujudkan Jakarta Doodle Fest (JDF) 2026 melalui Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done. Pertunjukan ini mengembangkan karya ilustrator lokal Michelle Sherrina atau yang akrab disapa Sherchle menjadi sebuah pertunjukan yang memadukan musik, seni visual, cerita, dan koreografi.

Memasuki penyelenggaraan keempat, JDF tahun ini memang hadir dengan format yang berbeda. Jika sebelumnya festival lebih banyak menjadi ruang bagi kreator untuk memperkenalkan karya dan membangun jejaring melalui creator’s market serta workshop, tahun ini JDF menjadikan experience dan performance sebagai fokus utama.

“Musikal Absurd” kemudian ditempatkan sebagai program utama JDF 2026. Pertunjukan tersebut dipersembahkan JDF bersama Indonesia Kaya dan diproduksi kembali oleh Jakarta Art House.

Baca Juga: Jakarta Doodle Fest Edisi Ke-3 Hadir di Mall Senayan City

Co-founder JDF dan TFR News Christine Laifa mengatakan keputusan tersebut tidak terlepas dari respons penonton terhadap pementasan Musikal Absurd sebelumnya.

“Sebelumnya, pementasan show yang digarap dari IP merupakan program sampingan setiap tahun, tetapi melihat antusiasme terhadap show Musikal Absurd tahun lalu, kami merasa seharusnya program ini yang dimajukan menjadi program utama. Karakter garapan Sherchle dalam stiker, poster, toys, hingga gantungan kunci ‘dihidupkan’ dan menjadi sebuah pengalaman yang baru,” ujar Christine dalam keterangan yang diterima Olenka pada Selasa (08/09/2026).

Musikal tersebut pertama kali dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada November 2025. Setelah mendapat respons positif, cerita Musikal Absurd dikembangkan kembali untuk JDF 2026 dengan durasi yang lebih panjang.

Jika sebelumnya pertunjukan berlangsung lebih singkat, tahun ini durasinya diperpanjang dua kali lipat menjadi 90 menit. Sejumlah karakter baru juga diperkenalkan, termasuk Christuna Aguillera yang diperankan Ode Waode.

Sementara itu, Made Aurellia kembali memerankan Vina Panduanidup, dengan Pila sebagai Mamah dan Uyo sebagai Sugeng.

Baca Juga: Suguhan Kesenian Indonesia Sambut Delegasi Luar Negeri ASEAN di Taman Asia Afrika

Cerita berpusat pada Vina Panduanidup, perempuan berusia 29 tahun yang bekerja di ibu kota. Di tengah kehidupannya, Vina mulai mempertanyakan makna hidup hingga akhirnya menemukan dirinya berbincang dengan makhluk dari alam khayalan yang disebut Absurd.

Cerita tersebut kemudian dikembangkan melalui perpaduan musik, seni visual, dan emosi. Penonton diajak mengikuti perjalanan Vina menyusuri memori untuk menemukan kembali semangat yang sempat hilang sekaligus alasan untuk terus bertahan.

Di balik pengembangan pertunjukan tersebut, sejumlah kreator dari pementasan sebelumnya kembali terlibat. Sherchle tetap menjadi kreator di balik dunia visual Absurd, sementara Aulion kembali duduk sebagai sutradara.

Palka Kojansow mengembangkan cerita melalui naskah dan lirik. Musik digarap Ammir Gita dan Achi Hardjakusumah, sementara koreografi kembali ditangani Andita Mardhiaputri. Penataan vokal dipercayakan kepada Clarissa Theopilia.

Bagi Sherchle, kesempatan kedua untuk melihat karya visualnya diterjemahkan menjadi pertunjukan memberikan pengalaman yang berbeda.

“Di kali pertama, rasanya seperti menang undian, di kali kedua rasanya terharu. Tidak aku sangka ternyata sesuka itu ya teman-teman kolaborator dengan karya ini, sampai mau bikin lagi, bahkan diperpanjang durasinya,” ujar Sherchle.

Sementara bagi Aulion, pengembangan Musikal Absurd menjadi kesempatan untuk membawa cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari ke dalam bentuk yang lebih ringan.

“Hidup kadang terlalu absurd untuk dipahami, jadi kita nyanyikan, kita tarikan, lalu kita tertawakan,” kata Aulion.

Fadli Hafizan, Founder & Producer Jakarta Art House, menilai pertunjukan tersebut membawa tema yang dekat dengan banyak orang. Menurutnya, setiap individu memiliki beban dan menghadapi kesulitan dalam menjalani hidup. Namun, manusia terkadang lupa untuk tertawa dan memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk bahagia.

Musikal Absurd juga mengajak penonton kembali melihat inner child dan mengingat masa kecil sebagai bagian dari perjalanan untuk menemukan motivasi dalam melanjutkan hidup dan mengejar mimpi.

JDF 2026 berlangsung pada 4–5 September 2026 di Galeri Ciputra Artpreneur, Jakarta, dengan tiga sesi pementasan selama dua hari.

Bagi JDF, pengembangan Musikal Absurd menjadi bagian dari upaya memperluas gagasan tentang bagaimana sebuah karya visual dapat memiliki kehidupan baru melalui medium berbeda.

Christine mengatakan, ke depannya JDF akan terus mengeksplorasi pengembangan IP kreator menjadi pengalaman yang dapat dinikmati masyarakat.

“Kami akan fokus menggarap experience yang diadaptasi dari IP. Bisa jadi format pertunjukan atau format live experience lainnya,” tutup Christine.