Growthmates, stres sering disebut sebagai salah satu penyebab berbagai penyakit, termasuk demensia. Namun, benarkah stres dapat secara langsung merusak otak hingga memicu penurunan fungsi kognitif?
Neuropsikolog klinis sekaligus Dosen Psikologi, Dr. Vennisia Mo, PhD, Psikolog, menjelaskan bahwa hubungan antara stres dan demensia tidak sesederhana anggapan banyak orang. Menurutnya, jawabannya berada di antara mitos dan fakta.
"Sebenarnya jawabannya mix. Karena stres sendiri itu tidak menyebabkan secara langsung terjadinya perubahan pada sel-sel otak yang merusak fungsi kognitif dan lain-lain. Tapi stres memiliki trickle down effect yang cukup signifikan," terang Dr. Vennisia, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari Instagram pribadinya @dr.vennimo, Rabu (22/7/2026).
Dr. Vennisia menuturkan, ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap berbagai gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan (anxiety) dan depresi.
Gangguan-gangguan ini, kata dia, memang dapat memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, hingga berkonsentrasi dalam jangka pendek.
"Kalau kita stres, kita bisa lebih susceptible atau lebih vulnerable untuk mengalami gangguan kesehatan mental, seperti anxiety dan depression. Penyakit-penyakit kesehatan mental seperti ini berdampak pada fungsi kognitif dalam jangka pendek," jelasnya.
Meski demikian, Dr. Vennisia menegaskan bahwa penurunan fungsi kognitif akibat gangguan kesehatan mental tersebut umumnya tidak bersifat permanen.
"Apakah bisa sampai berkepanjangan? Jawabannya biasanya enggak," katanya.
Baca Juga: Riset Monash University Ungkap Faktor Risiko dan Pencegahan Demensia
Namun, menurut Dr. Vennisia, dampak terbesar dari stres justru muncul melalui perubahan perilaku yang terjadi secara perlahan.
Saat mengalami stres, seseorang cenderung mengabaikan pola hidup sehat dan memilih mekanisme pelampiasan (coping mechanism) yang kurang tepat.
Misalnya, menjadi lebih jarang berolahraga, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, atau bahkan menggunakan obat-obatan terlarang. Kebiasaan-kebiasaan tersebut diketahui merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk demensia.
"Stres juga bisa mengubah perilaku kita. Misalnya karena stres kita jadi jarang olahraga, coping-nya kurang efektif, seperti jadi suka minum alkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang. Nah, perubahan lifestyle yang terjadi karena stres bisa menjadi faktor risiko untuk develop dementia di masa depan," ungkap Dr. Vennisia.
Karena itu, kata Dr. Vennisia, mengelola stres menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.
Menurutnya, bukan stresnya yang secara langsung menyebabkan demensia, melainkan kebiasaan tidak sehat yang muncul sebagai dampak dari stres berkepanjangan.
"Jadi, mengendalikan stres itu sangat penting," pungkasnya.
Baca Juga: Ini Dampak Stres Kronis pada Memori dan Emosi Menurut Ahli Biologi Molekuler