Namun, menurut Dr. Vennisia, dampak terbesar dari stres justru muncul melalui perubahan perilaku yang terjadi secara perlahan.

Saat mengalami stres, seseorang cenderung mengabaikan pola hidup sehat dan memilih mekanisme pelampiasan (coping mechanism) yang kurang tepat.

Misalnya, menjadi lebih jarang berolahraga, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, atau bahkan menggunakan obat-obatan terlarang. Kebiasaan-kebiasaan tersebut diketahui merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk demensia.

"Stres juga bisa mengubah perilaku kita. Misalnya karena stres kita jadi jarang olahraga, coping-nya kurang efektif, seperti jadi suka minum alkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang. Nah, perubahan lifestyle yang terjadi karena stres bisa menjadi faktor risiko untuk develop dementia di masa depan," ungkap Dr. Vennisia.

Karena itu, kata Dr. Vennisia, mengelola stres menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

Menurutnya, bukan stresnya yang secara langsung menyebabkan demensia, melainkan kebiasaan tidak sehat yang muncul sebagai dampak dari stres berkepanjangan.

"Jadi, mengendalikan stres itu sangat penting," pungkasnya.

Baca Juga: Ini Dampak Stres Kronis pada Memori dan Emosi Menurut Ahli Biologi Molekuler