Growthmates, masih banyak mitos yang berkembang di masyarakat mengenai penyebab kanker payudara. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah kebiasaan pasangan menggigit puting saat berhubungan intim dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan kebiasaan tersebut dapat menyebabkan kanker payudara.

"Pada prinsipnya, tidak menyebabkan itu. Jadi riset khusus mengenai gigit puting tidak ada," jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Minggu (19/7/2026).

Sebaliknya, Prof. Zubairi menjelaskan bahwa bukti ilmiah justru menunjukkan aktivitas menyusui memiliki manfaat dalam menurunkan risiko kanker payudara.

"Kalau seorang ibu menyusui, risiko kanker payudara turun drastis dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui. Dari beberapa data yang saya dapatkan memang sebaliknya. Jadi menyusui bayi menurunkan risiko kanker payudara," jelasnya.

Meski demikian, Prof. Zubairi mengingatkan bahwa kanker payudara merupakan penyakit yang dipengaruhi oleh banyak faktor.

Karena itu, kata dia, risiko seseorang tidak bisa dinilai hanya dari satu kebiasaan tertentu, baik menyusui maupun kebiasaan menggigit puting.

Baca Juga: 7 Makanan Pemicu Kanker Menurut Dokter Spesialis Gizi, Bukan Dilarang tapi Wajib Dibatasi!

MenurutProf. Zubairi , gaya hidup memiliki peran penting terhadap risiko kanker payudara. Obesitas, kurang berolahraga, serta rendahnya konsumsi sayur dan buah merupakan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.

Selain gaya hidup, lanjutProf. Zubairi, faktor keturunan juga perlu mendapat perhatian.

Ia menuturkan, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 memiliki risiko kanker payudara yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

"Kalau orang tua kita kanker payudara dan diperiksa ternyata mengandung mutasi genetik BRCA1 dan BRCA2, maka risiko anak-anaknya dan sampai ponakan untuk kanker itu tinggi, 70-80 persen. Tetapi itu hanya untuk yang ada mutasi BRCA1 dan BRCA2," kata Prof. Zubairi.

Terakhir, Prof. Zubairi pun menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sebagai salah satu langkah terbaik untuk membantu menurunkan risiko kanker.

"Jadi hidup sehat mencegah kanker," pungkasnya.

Baca Juga: 4 Tips Mencegah Penyakit Tulang dan Sendi pada Ibu Rumah Tangga Menurut Dokter Ahli