Lebih lanjut, Prof. Zubairi menekankan bahwa keluhan pada saluran kemih tidak selalu berarti ISK. Gejalanya bisa mirip dengan penyakit lain, termasuk infeksi menular seksual seperti gonore atau sifilis, yang membutuhkan penanganan berbeda.
“Rasa nggak nyaman di saluran air kemih itu penyebabnya bisa macam-macam. Jadi harus dipastikan dulu, apakah ini ISK atau penyakit lain,” ujarnya.
ISK sendiri disebut lebih sering terjadi pada usia lanjut. Namun yang paling krusial dalam penanganannya adalah kepatuhan terhadap pengobatan. Prof. Zubairi mengingatkan agar pasien tidak menghentikan obat sebelum waktunya.
“Pengobatan tidak boleh putus. Salah satu yang menyebabkan kegagalan pengobatan ISK ini adalah putus obat di tengah jalan, karena bakterinya bisa menjadi resisten,” jelasnya.
Jika keluhan tidak kunjung membaik meski sudah berobat, lanjut Prof. Zubairi, pasien disarankan untuk berkonsultasi lebih lanjut ke dokter spesialis, baik spesialis penyakit dalam, konsultan ginjal hipertensi, maupun spesialis urologi.
Dalam beberapa kasus, kata dia, pemeriksaan tambahan seperti tes laboratorium urin, darah, fungsi ginjal, hingga kultur bakteri diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Prof. Zubairi juga menambahkan bahwa pada kondisi tertentu, keluhan bisa berkaitan dengan organ reproduksi, sehingga konsultasi ke dokter kandungan mungkin diperlukan.
Meski demikian, Prof. Zubairi menegaskan bahwa ISK pada dasarnya dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat.
“Minum obat harus sampai habis. Tidak boleh putus obat. Bila ingin yakin, perlu diperiksa laboratorium dengan baik dan benar,” pungkasnya.
Baca Juga: Usai Lebaran Jangan Abaikan Kesehatan, Ini Pesan Dokter Ahli