Growthmates, banyak orang merasa tenang setelah menjalani general check up dan mendapatkan hasil yang baik. Namun, apakah hasil tersebut berarti seseorang pasti terbebas dari kanker?
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, menegaskan bahwa general check up pada umumnya memang tidak dirancang khusus untuk mendeteksi kanker.
"Ada pertanyaan ke saya, Prof, kalau aku general check up, dinyatakan sehat, maka aku pasti tidak sakit kanker. Nah dulu, general check up itu bukan untuk kanker. General check up biasanya apakah diabetes, darah tinggi, kolesterol, asam urat, jantung, dan yang lain," jelas Prof. Zubairi, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (22/6/2026).
Menurut Prof. Zubairi,, hingga saat ini belum ada satu pemeriksaan yang mampu mendeteksi seluruh jenis kanker secara akurat sekaligus. Meski dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang teknologi bernama Multicancer Early Detection (MCED), penggunaannya masih memiliki keterbatasan.
"Pada prinsipnya tidak ada satu tes untuk semua jenis kanker. Walaupun beberapa tahun ini ada tes namanya Multicancer Early Detection atau MCED. Dengan satu kali tes, kita bisa menduga ada kemungkinan kanker atau tidak. Tapi ini belum evidence based-nya, belum level 1, jadi masih ada kemungkinan kesalahan," jelasnya.
Karena itu, kata Prof. Zubairi, pemeriksaan kanker sebaiknya disesuaikan dengan faktor risiko masing-masing individu, terutama riwayat keluarga.
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki ibu dengan riwayat kanker usus besar perlu menjalani skrining yang spesifik untuk kanker tersebut, seperti kolonoskopi, endoskopi, biopsi, maupun pemeriksaan penanda tumor dalam darah seperti CEA.
"Kalau ibu saya kanker usus besar, maka Anda wajib tes kankernya karena usus besar dengan kolonoskopi, endoskopi, biopsi, dan pemeriksaan tes darah namanya CEA," kata Prof. Zubairi.
Hal serupa juga berlaku pada kanker payudara. Jika terdapat beberapa anggota keluarga yang pernah mengalami kanker payudara, risiko seseorang dapat meningkat secara signifikan akibat kemungkinan adanya mutasi gen BRCA1 atau BRCA2.
"Kalau di keluarga saya ada tiga ibu-ibu, tante saya, ponakan saya, sama adik saya kanker payudara, maka ada kemungkinan masuk grup mutasi BRCA1 BRCA2. Artinya risiko kanker payudara di keluarga ini bisa 80 persen, sedangkan rata-rata orang risiko kanker payudara paling tinggi 11 persen," ungkapnya.
Dalam kondisi tersebut, kata Prof. Zubairi, skrining kanker payudara secara berkala menjadi sangat penting. Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan USG pada usia muda, sementara wanita berusia di atas 40 tahun dapat menjalani mammografi atau MRI sesuai rekomendasi dokter.
Baca Juga: Cara Menjaga Rutinitas Anak Neurodivergent saat Libur Sekolah, Ini Tips dari Ahli
Prof. Zubairi juga mengingatkan bahwa beberapa jenis kanker lain, seperti kanker ovarium, memiliki kecenderungan diturunkan dalam keluarga sehingga memerlukan perhatian khusus.
"Kalau ada banyak kanker payudara di keluarga, maka Anda wajib periksa dokter untuk screening kanker payudara berkala," tegasnya.
Selain riwayat keluarga, lanjut Prof. Zubairi, masyarakat juga dianjurkan mengikuti program skrining yang direkomendasikan pemerintah sesuai jenis kanker yang berisiko.
Untuk kanker serviks misalnya, pemeriksaan Pap smear dan vaksinasi HPV menjadi langkah penting dalam pencegahan.
"Kalau takut kanker serviks, karena kanker serviks di Indonesia banyak sekali, itu perlu periksa Pap smear. Demikian juga apakah Anda sudah vaksinasi HPV atau Human Papilloma Virus," katanya.
Sementara itu, untuk kanker hati yang dahulu banyak ditemukan di Indonesia, pemeriksaan hepatitis B juga sangat dianjurkan karena infeksi virus hepatitis B merupakan salah satu penyebab utama kanker hati.
"Dalam hal ini Anda perlu tes hepatitis B dan zat antibodinya. Apakah Anda sudah terinfeksi dan belum diobati? Apakah Anda sudah kebal? Itu akan menentukan tata laksana berikutnya," jelas Prof. Zubairi.
Prof. Zubairi pun menekankan bahwa tidak ada satu pemeriksaan yang paling baik untuk semua orang. Strategi yang tepat adalah mengenali risiko pribadi dan melakukan skrining yang sesuai.
"Intinya adalah no test is best. Tidak ada satu tes untuk merangkap semua. Jadi Anda harus melihat Anda risiko paling tinggi kanker apa. Nah itu kemudian yang perlu diperiksa," ujar Prof. Zubairi.
Di luar pemeriksaan medis, kata Prof. Zubairi, gaya hidup sehat tetap menjadi salah satu senjata utama untuk mencegah kanker. Prof. Zubairi mengingatkan bahwa obesitas, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker.
"Hampir semua orang yang obesitas beratnya 100 kilo atau lebih, kemudian hampir semua orang yang peminum alkohol dan perokok, itu risiko kankernya tinggi. Jadi berat badan harus turun, stop merokok, stop alkohol, kemudian mulai hidup sehat supaya kanker batal muncul," ungkapnya.
Prof. Zubairi pun menutup pesannya dengan mengingatkan pentingnya pola hidup sehat yang sederhana namun konsisten.
"Apa itu? Ya sayur, ya buah, ya olahraga, ya senang-senang," pungkas Prof. Zubairi.
Baca Juga: Tren Diabetes Usia Muda Meningkat, Ini Penjelasan Dokter Ahli