Akses terhadap layanan kesehatan tidak selalu hanya soal ketersediaan fasilitas medis, tetapi juga kesiapan finansial pasien, terutama dalam kondisi darurat.

Hal ini disoroti oleh Co-founder sekaligus Presiden Direktur Mandaya Hospital Group, Benedictus Widaja, yang menilai bahwa keterbatasan likuiditas dana masih menjadi kendala besar bagi banyak pasien di Indonesia.

Menurut Benedictus, dalam situasi sakit, terlebih yang membutuhkan tindakan medis cepat, kemampuan untuk mengakses dana tunai secara langsung menjadi sangat krusial.

“Dari sisi pasien ya, dari sisi pasien yang kita suka lihat, aksesibilitas terhadap liquid cash itu ketika pasien itu sedang sakit itu kadang-kadang penting sekali,” terang Benedictus, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Senin 27/4/2026).

Benedictus lantas mengungkapkan, persoalan ini tidak hanya dialami oleh masyarakat umum, tetapi juga bisa menimpa kalangan pebisnis besar.

Ia mencontohkan pengalaman nyata yang pernah ditemuinya, ketika seorang pemilik pabrik besar di Indonesia harus menghadapi penyakit serius, namun kesulitan membiayai pengobatan secara cepat.

“Apalagi kalau pasien belum punya asuransi ya. Karena saya sering melihat ada mungkin owner pabrik besar yang ketika tiba-tiba jatuh sakit, kena kanker hati, saya tahu sekali itu kasusnya, yang sampai memohon-mohon kepada kita untuk keringanan biaya karena mungkin dia punya pabrik dan sebagainya, tapi enggak punya dana untuk bisa operasi, bisa melakukan tindakan-tindakan yang besar saat itu,” jelasnya.

Baca Juga: Belajar dari Malaysia, Mandaya Hospital Dorong Transformasi Layanan Kesehatan di Indonesia