Abu Vulkanik Bisa Mencemari Makanan dan Air

Prof. Tjandra juga mengatakan, paparan abu juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui makanan dan minuman. Abu vulkanik yang mengendap di lingkungan berpotensi mencemari makanan, minuman, maupun sumber air apabila tidak terlindungi.

Ketika abu yang telah mencemari makanan atau minuman kemudian tertelan, kondisi tersebut dapat memicu gangguan pada saluran pencernaan.

Karena itu, masyarakat perlu memastikan makanan dan minuman tetap tertutup selama abu vulkanik masih bertebaran. Sumber air juga perlu dijaga agar tidak terkontaminasi.

Kebersihan lingkungan setelah hujan abu juga menjadi perhatian. Proses pembersihan sebaiknya dilakukan dengan cara yang tidak membuat abu kembali beterbangan karena dapat meningkatkan risiko partikel tersebut terhirup.

Dampak Psikologis Akibat Erupsi

Risiko kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Gangguan aktivitas dan ketidakpastian yang muncul akibat erupsi juga dapat memberikan tekanan psikologis bagi masyarakat.

Pembatalan maupun penundaan penerbangan, terganggunya perjalanan ibadah umrah, hingga tertundanya keberangkatan untuk keperluan pendidikan di luar negeri dapat menjadi sumber kecemasan dan stres bagi sebagian warga.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak bencana dapat merambah berbagai aspek kehidupan. Ketidakpastian mengenai perjalanan, pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas sehari-hari dapat memberikan tekanan mental, terlebih jika kondisi berlangsung dalam waktu yang belum dapat dipastikan.

Nah, untuk mengurangi risiko kesehatan, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi abu vulkanik masih tinggi. Berada di dalam ruangan dapat membantu mengurangi paparan langsung terhadap partikel abu yang beterbangan.

Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker. Masker N95 dapat menjadi pilihan karena memiliki kemampuan filtrasi partikel yang lebih tinggi. Namun, apabila N95 tidak tersedia, masyarakat tetap dapat menggunakan masker yang tersedia sebagai bentuk perlindungan.

Perlindungan juga perlu dilengkapi dengan kacamata dan pakaian berlengan panjang untuk mengurangi paparan abu terhadap mata dan kulit.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta perlu mendapatkan perhatian lebih. Mereka sebaiknya meminimalkan aktivitas di luar ruangan selama paparan abu masih tinggi.

Dalam konteks perlindungan anak, penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) oleh pemerintah daerah dapat menjadi salah satu langkah preventif.

Dengan mengikuti pembelajaran dari rumah, anak-anak dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menekan risiko terpapar abu vulkanik ketika kondisi udara belum kembali aman.

Baca Juga: Abu Vulkanik Ganggu Kualitas Udara, Ini 5 Makanan yang Bisa Bantu Jaga Kesehatan Paru-paru