Ajang diplomasi muda bergengsi Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Depok Chapter sukses diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu, 1–2 Agustus 2026.
Bekerja sama dengan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al Haraki sebagai school partner, program ini berhasil menyatukan 315 pelajar dari 118 sekolah dan universitas (jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi) yang berasal dari area Jabodetabek, Sukabumi, Sumatera Selatan, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, hingga Bali.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. Pembukaan ini turut dihadiri oleh Wakil Walikota Depok Chandra Rahmansyah, S.Kom., M.T (mewakili Walikota Depok), Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Wahid Suryono, S.Pi, Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Depok Eko Herwiyanto, AP, M.Si, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Barat Yudi Rahmat, S.E., M.Si., Ketua Yayasan AKBAR Drs. Krisnawan Setianto, serta Direktur Pendidikan SIT Al Haraki Susi P. Krisnawan.
“AYIMUN adalah program bergengsi yang mengingatkan kita untuk mempersiapkan generasi muda yang optimis dan siap menghadapi perubahan. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hard skills, tetapi yang lebih penting adalah soft skills seperti berpikir kritis, negosiasi, dan kolaborasi. Jadikan ini kesempatan untuk mengembangkan kemampuan demi membawa nama Indonesia di kancah dunia,” tutur Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed.
Baca Juga: AYIMUN 20th di Kuala Lumpur, Ruang Bertemunya Diplomasi Muda Asia
Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh Wakil Walikota Depok, Chandra Rahmansyah, S.Kom., M.T., yang hadir mewakili Walikota Depok.
“Apresiasi setinggi-tingginya untuk kolaborasi AYIMUN Depok Chapter 2026. Di sini, para peserta belajar menjadi calon pemimpin yang mendengar, menghargai perbedaan, dan berani menyampaikan gagasan. Keterampilan inilah yang menjadi bekal penting dalam membawa nama baik Indonesia di kancah dunia,” kata Chandra.
Presiden International Global Network, Muhammad Fahrizal, menekankan pentingnya faktor manusia di balik keamanan dunia digital.
“Mengamankan masa depan digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi pada manusianya. Berpikir kritis menjadi firewall terkuat, sementara empati dan kerja sama adalah kunci menghadapi tantangan global. Ini bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan keterampilan hidup yang dapat dipelajari langsung lewat ajang Model United Nations,” kata Fahrizal.