Perkembangan Terapi yang Lebih Terarah

Seiring berkembangnya pemahaman terhadap mekanisme penyakit, pendekatan penanganan SLE kini tidak hanya berfokus pada mengatasi flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi sebagai target utama.

Pendekatan ini bertujuan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah secara konsisten, mencegah kerusakan organ, serta meminimalkan penggunaan glukokortikoid jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping. Rekomendasi serupa juga disampaikan oleh European Alliance of Associations for Rheumatology yang menekankan pentingnya remisi, pencegahan flare, dan perlindungan organ dalam penanganan SLE.

Salah satu inovasi terbaru adalah Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk SLE. Terapi ini bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I melalui penghambatan sinyal reseptor terkait, sehingga membantu mengontrol aktivitas penyakit pada pasien SLE aktif kategori sedang hingga berat sesuai evaluasi dokter.

Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy, menjelaskan bahwa pendekatan penanganan SLE kini berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.

“Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta memberikan perlindungan terhadap kerusakan organ dalam jangka panjang,” jelasnya.

Manfaat Terapi Inovatif bagi Pasien Lupus

Menurut dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, terapi inovatif yang menargetkan jalur Interferon Tipe I memberikan manfaat yang signifikan bagi pasien SLE karena bekerja langsung pada mekanisme utama terjadinya penyakit.

“Pertama, terapi ini dapat membantu mengurangi gejala yang dialami pasien. Kemudian tentunya meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan angka kematian akibat lupus,” jelas dr. Sandra.

Ia menerangkan bahwa Interferon Tipe I merupakan protein yang berperan penting dalam proses kerusakan organ dan munculnya berbagai gejala lupus. Molekul ini memengaruhi banyak sel imun lain yang terlibat dalam proses autoimun, seperti sel B pembentuk autoantibodi, ketidakseimbangan sel T, hingga sel dendritik.

“Dalam proses terjadinya lupus, semua sel imun tersebut dipengaruhi oleh Interferon Tipe I. Dengan menghambat jalur ini, maka proses peradangan dan autoimun dapat ditekan sehingga kondisi pasien menjadi lebih stabil secara klinis,” ujarnya.

Melalui mekanisme tersebut, terapi inovatif diharapkan mampu membantu memperbaiki gejala, menjaga aktivitas penyakit tetap terkendali, mengurangi risiko kerusakan organ jangka panjang, serta membantu pasien menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.

Selain inovasi terapi, edukasi masyarakat dan diagnosis yang lebih cepat juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan penanganan SLE di Indonesia.

Melalui kampanye “From Burden to Living Well”, AstraZeneca menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan, pengembangan terapi berbasis sains, dukungan terhadap studi berbasis bukti nyata (real-world evidence/RWE), serta program edukasi kesehatan yang telah menjangkau lebih dari 87.000 generasi muda di Indonesia.

Presiden Direktur AstraZeneca, Esra Erkomay, menyampaikan bahwa peningkatan kesadaran terhadap SLE perlu terus diperkuat agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien memperoleh penanganan yang tepat.

“Kami berharap semakin banyak pasien SLE di Indonesia dapat bergerak dari beban penyakit menuju kualitas hidup yang lebih baik,” tutupnya.